Berita Bisnis Terkini

Gandeng Kemenkes RI, PT Johnson & Johnson Indonesia Selenggarakan Webinar Awam

Johnson & Johnson mendukung program kesehatan mental yang menyediakan sumber daya untuk mendukung petugas kesehatan garis depan di seluruh dunia. 

Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Gaya Lufityanti
istimewa
Para narasumber dan panelis dalam acara Webinar Awam Depresi Dengan Pikiran Hingga Perilaku Bunuh Diri (10/9) yang diselenggarakan oleh Johnson & Johnson Indonesia dan didukung oleh Kementerian Kesehatan (KESWA). Dari kiri – kanan : dr. Edduwar Idul Riyadi, Sp.KJ., Dr. Nova Rianty Yusuf, Sp.KJ., Nurul Eka H., M.Si, Prof. Dr. Budi Anna Keliat, S.Kp, M.App.Sc, Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, dr. Lahargo Kembaren, Sp.KJ, Benny Prawira, M.Psi, dan Tri Agung Kristanto. 

Tribunjogja.com  – Saat ini kesehatan jiwa menjadi salah satu tantangan terbesar di masyarakat dalam skala global.

Kurangnya akses untuk perawatan kesehatan jiwa dan stigma di masyarakat menjadi salah satu faktor yang

memperparah kondisi kondisi kesehatan jiwa pasien yang dapat menyebabkan tindakan bunuh diri.

Kesehatan jiwa berdampak pada kesehatan fisik, sosial, dan ekonomi individu dan masyarakat di seluruh dunia.

Lebih dari tiga perempat orang yang menderita penyakit jiwa tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah dimana akses untuk perawatan kesehatan jiwa yang berkualitas sangat terbatas.

Bahkan lebih dari 75 persen orang dengan gangguan jiwa tidak mendapatkan perawatan sama sekali.

Baca juga: Johnson & Johnson Indonesia Tumbuhkan Kesadaran Bahaya Kanker Darah pada Lansia

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat setiap tahun 703.000 orang bunuh diri dan masih banyak lagi orang yang melakukan percobaan mengakhiri hidup.

Setiap tindakan mengakhiri hidup adalah tragedi yang mempengaruhi keluarga, komunitas dan seluruh negara dan memiliki efek jangka panjang pada orang-orang yang ditinggalkan.

Kasus mengakhiri hidup terdapat di seluruh rentang usia dan merupakan penyebab kematian keempat di antara usia 15-29 tahun secara global pada tahun 2019.

Mengakhiri hidup tidak hanya terjadi di negara-negara berpenghasilan tinggi, tetapi merupakan fenomena global di seluruh wilayah dunia.

Halaman
123
Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved