Perang Rusia Ukraina
Presiden Zelensky Bertekad Rebut Kembali Wilayah Donbass
Presiden Ukraina Volodymir Zelensky bertekad merebut kembali wilayah Donbass yang kini dikuasai pasukan Rusia.
Penulis: Krisna Sumarga | Editor: Krisna Sumarga
TRIBUNJOGJA.COM, KIEV - Presiden Ukraina Volodymir Zelensky bertekad akan merebut kembali Donbass, yang sekarang hampir sepenuhnya dikuasai pasukan Rusia.
“Kami tidak melupakan dan tidak akan melupakan salah satu kota kami dan orang-orang kami,” kata Zelensky pada pidatonya di Kiev Minggu (28/8/2022) waktu setempat.
“Sekarang Donbass hampir dihancurkan serangan Rusia, hancur. Donetsk Ukraina yang bangga dan mulia dipermalukan oleh pendudukan Rusia dan dirampok,” katanya berapi-api.
Baca juga: Zelensky Inginkan Presiden China Xi Jinping Bujuk Rusia Hentikan Perang
Baca juga: Boris Johnson di Kiev, Minta Ukraina Tolak Negosiasi Apapun dengan Rusia
Baca juga: Menhan Sergey Shoigu Akui Rusia Perlambat Operasi Tempur di Ukraina
“Tapi Ukraina akan kembali. Martabat orang-orang Donbass akan kembali. Kemampuan untuk hidup akan kembali. Kesempatan untuk hidup dengan aman dan bahagia,” tambah Zelensky.
Menurutnya, inilah yang akan dilambangkan bendera Ukraina ketika kita memasangnya di Donetsk, Gorlovka, Mariupol, di semua kota Donbass, wilayah Azov, di semua wilayah di bawah pendudukan Rusia – di wilayah Kharkov, Zaporozhye, Kherson. Pastinya di Krimea,” tandasnya.
"Ukraina mengingat semuanya," pungkasnya. AS diperkirakan akan membantu Ukraina mempersiapkan serangan balasan yang akan datang terhadap Rusia.
The Washington Post mengklaim kemungkinan ini menunjuk jenis persenjataan baru bantuan militer yang dijanjikan ke Kiev oleh Pentagon.
Bulan lalu, sejumlah pejabat tinggi Ukraina menyarankan militer negara itu akan melancarkan serangan balasan di selatan negara itu pada Agustus untuk merebut kembali kota Kherson.
Rusia mengirim pasukan ke Ukraina pada 24 Februari, menyusul kegagalan Kiev untuk mengimplementasikan perjanjian Minsk 2014.
Perjanjian ini dirancang memberikan status khusus wilayah Donetsk dan Lugansk di dalam negara Ukraina.
Protokol, yang ditengahi Jerman dan Prancis, pertama kali ditandatangani pada 2014. Mantan Presiden Ukraina Pyotr Poroshenko mengakui tujuan utama Kiev menggunakan gencatan senjata untuk mengulur waktu dan menciptakan angkatan bersenjata yang kuat.
Pada Februari 2022, Kremlin mengakui Republik Donbass sebagai negara merdeka dan menuntut agar Ukraina secara resmi menyatakan dirinya sebagai negara netral.
Rusia menghendaki Ukraina tidak akan pernah bergabung dengan blok militer barat mana pun. Kiev menegaskan serangan Rusia benar-benar tidak beralasan.
Pasok Senjata via Laut
Washington telah secara signifikan memperluas pengiriman senjata ke Ukraina melalui laut di tengah konflik dengan Rusia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Zelensky-dan-Putin.jpg)