Polisi Tembak Polisi
Benang Kusut Kematian Brigadir J Mulai Terurai, 'Bedol Desa' yang Dilakukan Kapolri jadi Triggernya
Benang kusut dalam kasus kematian Brigadir J di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo perlahan mulai terurai.
Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, JAKARTA - Benang kusut dalam kasus kematian Brigadir J di rumah dinas Irjen Ferdy Sambo perlahan mulai terurai.
Menko Polhukam Mahfud MD sebelumnya menyebut kasus kematian Brigadir J ini bukan kasus kriminal biasa.
"Saya katakan, 'maaf (kasus) ini tidak sama dengan kriminil biasa'. Sehingga memang harus bersabar," kata Mahfud beberapa waktu yang lalu.
Mahfud Md menyebut ada aspek psiko-hierarkis dan psiko-politis di kasus penembakan Brigadir J.
"Karena ada psiko-hierarkial, ada juga psiko-politisnya," ucap Mahfud.
Kini, setelah puluhan anggota polisi yang diduga menghambat pengungkapan kasus tersebut dimutasi oleh Kapolri, kasus kematian Brigadir J perlahan mulai ada titik terang.
Menurut Mahfud MD, pengungkapkan kasus yang menyita perhatian publik di Tanah Air ini mulai menunjukan kemajuan signifikan.
Hal itu lantaran permasalahan politik dan hierarki yang disebut Mahfud MD sebagai psikopolitis dan psikohierarkis sudah bisa dieliminir.
Caranya adalah dengan bedol desa, memindahkan banyak polisi yang terkait kasus pembunuhan Brigadir J agar tidak ada kepentingan yang saling menyandera.
Terutama soal hierarkis yang berhasil diputus lewat pemindahan atau mutasi 15 perwira yang dilakukan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo.
Saksi kunci, Bharada Richard Eliezer Pudihang Lumiu atau Bharada E pun menjadi berani bicara.
Meski berstatus tersangka, Bharada E bersedia menjadi justice collaborator.
Kesaksian Bharada E tentang kejadian di rumah dinas Kadiv Propam, Kompleks Polri, Duren Tiga, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat (8/7/2022) itu menjadi sangat penting.
"Seperti ada yang saling sandera, kemudian Bharada E di bawah penguasaan orang yang berkepentingan. Kemudian yang harus diperiksa dan harus memeriksa itu orangnya jabatannya beda."
"Maka Kompolnas mengusulkan bedol deso. Bedol deso itu artinya buang dulu orang-orang di situ. Dan ternyata jalan kan sesudah dipindahkan," kata Mahfud MD di acara Kompas Petang Kompas TV, Minggu (7/8/2022) seperti yang dikutip dari Tribunjakarta.com.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pernyataan-Kapolri-Jenderal-Listyo-Sigit-Soal-Hasil-Autopsi-Jenazah-Brigadir-J-Hari-Ini.jpg)