PSS Sleman

Perjalanan Karir Seto Nurdiantoro Hingga Layak Menyandang Julukan Ikon PSS Sleman

Seto Nurdiantoro mengawali karier sepakbolanya di PSS Sleman sejak era 1900an, setelah terjun di klub amatir lokal PSK Kalasan.

Penulis: Agus Wahyu | Editor: Hari Susmayanti
Tribunjogja.com
Seto Nurdiantoro 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - NAMA Seto Nurdiyantoro ini tak bisa dipisahkan dengan PSS Sleman.

Pemain asal Kalasan, Sleman ini adalah ikon PSS Sleman.

Seto Nurdiantoro mengawali karier sepakbolanya di PSS Sleman sejak era 1900an, setelah terjun di klub amatir lokal PSK Kalasan.

Sebelum berkiprah di kompetisi profesional bersama Super Elang Jawa (Elja), yakni Divisi 1 PSSI pada 2000, Seto Nurdiantoro sempat berkelana ke sejumlah klub mapan, misalnya termasuk Pelita Solo, PSIM Yogyakarta, hingga Persiba Bantul.

Seto Nurdiantoro pun sempat menjadi bagian Timnas Indonesia.

Ayah dua anak ini layak mendapat julukan pemain legendaris dalam sejarah PSS Sleman.

Menempati posisi gelandang serang, Seto Nurdiantoro menjadi ‘mesin’ penggerak tim yang dibelanya, khususnya PSS Sleman.

Penampilannya yang tenang dan elegan, Seto Nurdiantoro mampu menghidupkan permainan PSS Sleman pada saat kondisi drop di lapangan.

Penampilan Seto Nurdiantoro selalu dinantikan publik Sleman setiap kali skuat PSS Sleman tampil di lapangan, baik saat masih di Stadion Tridadi Sleman, Stadion Mandala Krida (awal musim PSS di Divisi Utama Liga Indonesia), maupun Stadion Maguwoharjo Sleman.

Perjalanan Karir Seto Nurdiantoro Hingga Layak Menyandang Julukan Ikon PSS Sleman
Seto Nurdiantoro saat masih menjadi pemain

Menengok kilas balik Seto Nurdiantoro dalam karier sepakbolanya, selepas merumput di klub Pelita Solo musim kompetisi 1998-2000, Seto akhirnya kembali ke Bumi Sembada pada musim 2000, di mana saat itu PSS Sleman berjuang untuk merebut tiket Divisi Utama Liga Indonesia.

Baca juga: Prediksi Susunan Pemain PSS Sleman vs PSS Legends Rabu Sore Ini

Baca juga: Pemain PSS Sleman Terharu Disambut Nyanyian Anthem dari Anak-anak Panti Asuhan

Pemain kelahiran 1974 pun berhasil mengantarkan tim kebanggaan Slemania dan BCS masuk kompetisi tertinggi negeri ini, yakni Divisi Utama Liga Indonesia pada 2001.

Lelaki yang pernah membawa PSS Sleman juara Liga 2 2018 itu juga memiliki peran penting saat itu.

Seto Nurdiantoro adalah ikon PSS.

Kendati masih berhome base di stadion kecil, Stadion Tridadi Sleman, Seto Nurdiantoro sukses membawa timnya pada posisi empat besar klasemen Liga Indonesia selama dua musim berturut-turut, yakni musim kompetisi 2003 dan 2004.

Setelah gantung sepatu sebagai pemain profesional, Seto Nurdiantoro  melanjutkan kariernya menjadi asisten pelatih sembari tetap menjadi pemain di Persiba Bantul.

Karier kepelatihan ia lanjutkan dengan menangani tim yang melambungkan namanya, PSS Sleman pada 2016-2020.

Sejarah PSS Sleman lagi-lagi ia torehkan sebagai pelatih Laskar Sembada. Yakni, Trofi Liga 2 Musim 2018 ia persembahkan bagi publik Sleman dan DIY. (ayu)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved