Berita Gunungkidul Hari Ini
Hujan Masih Turun di Bulan Juni 2022, Dinas Kesehatan Gunungkidul Antisipasi Potensi DBD
hujan hingga kini masih terus mengguyur meski sudah memasuki musim kemarau . Dinas Kesehatan Gunungkidul pun mengantisipasi potensi penyakit yang
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - hujan hingga kini masih terus mengguyur meski sudah memasuki musim kemarau .
Dinas Kesehatan Gunungkidul pun mengantisipasi potensi penyakit yang muncul, seperti Demam Berdarah Dengue ( DBD ).
Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul Dewi Irawaty menyampaikan saat ini laporan akan kasus DBD masih terbilang melandai.
Baca juga: KECELAKAAN Remaja 14 Tahun di Sleman Ngebut Bawa Sepeda Motor, Satu Orang Meninggal Dunia
"Tidak meningkat, tapi masih ada terus kasus barunya," kata Dewi, Senin (27/06/2022).
Meski demikian, jika dibandingkan dengan 2021 lalu, kasus DBD di tahun ini terbilang lebih tinggi.
Data dari Dinkes Gunungkidul menunjukkan total ada 189 warga yang terjangkit DBD.
Namun di paruh awal tahun 2022, sudah ada 302 orang terjangkit DBD .
Menurut Dewi, setidaknya ada 3 kasus meninggal dunia karena DBD di tahun ini.
"Paling banyak pasien laki-laki mencapai 174 kasus, sisanya sebanyak 128 kasus adalah perempuan," ujarnya.
Menurut Dewi, hujan yang hingga kini masih terus mengguyur turut menyebabkan kasus baru DBD terus bermunculan.
Apalagi penyakit ini dibawa oleh nyamuk, yang membutuhkan tempat basah sebagai sarang.
Itu sebabnya, ia mengingatkan jika prinsip 3M Plus (Mengubur, Menguras, Menutup, dan penggunaan Abate) masih sangat diperlukan.
Termasuk menjaga kebersihan lingkungan agar sarang nyamuk tidak mudah terbentuk.
"Prinsip pencegahan DBD masih sama, cuma terkadang masyarakat masih agak abai," jelas Dewi.
Terpisah, Sekretaris Dinkes Gunungkidul Sri Agus Wahyono menyampaikan bahwa angka kasus DBD cenderung melandai dalam 3 bulan terakhir. Angka tertinggi DBD dilaporkan pada Januari 2022 sebanyak 139 kasus.
Sedangkan di bulan-bulan berikutnya, kasus DBD mampu ditekan hingga di bawah 50 pasien. Terendah dilaporkan pada Juni ini, di mana hanya ada 18 pasien DBD.
"Kalau yang meninggal dunia, 2 orang di bulan Maret dan 1 di Februari," ungkap Agus.
Baca juga: Wacana Pembelian Minyak Goreng Curah Pakai PeduliLindungi, Ini Kata Pemkab Klaten
Selain DBD, Leptospirosis juga tengah menjadi perhatian Dinkes Gunungkidul .
Apalagi kasus dari penyakit ini cenderung meningkat di tahun ini, jika dibandingkan tahun sebelumnya.
Leptospirosis turut menjadi perhatian Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul .
Sebab penyakit ini bersumber dari air seni tikus, yang selain berdampak pada kesehatan petani, juga menjadi hama bagi tanaman pangan.
"Itu sebabnya populasi tikus ini perlu dikendalikan lewat berbagai upaya," kata Kepala DPP Gunungkidul Rismiyadi belum lama ini. (alx)