Travel

Mencicipi Gurihnya Bubur Blendrang Khas Muntilan Magelang

Memiliki cita rasa yang gurih, bubur blendrang dibuat dari tepung gandum yang dicampur dengan aneka rempah.

Penulis: Nanda Sagita Ginting | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Nanda Sagita
penjual blendrang Sriyati (49), warga Dusun Nepen, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang saat menyiapkan pesanan pelanggan, beberapa waktu lalu. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Nanda Sagita Ginting

TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Jika berkunjung ke Magelang jangan lupa untuk mencoba  menikmati satu di antara makanan  tradisional yang sudah melegenda yakni, bubur blendrang .

Bubur blendrang merupakan makanan khas Muntilan, Kabupaten Magelang yang hanya bisa ditemui di tempat itu.

Memiliki cita rasa yang gurih, bubur blendrang dibuat dari tepung gandum yang dicampur dengan aneka rempah.

Kemudian, dimasak menggunakan kaldu ayam atau kambing.

Baca juga: Menyantap Gurihnya Bubur Bakar di Jalan Wahidin Sudirohusodo Gondokusuman Kota Yogyakarta

Setelah bubur mengental akan disajikan bersamaan dengan potongan tulang ayam atau kambing.

Dengan tambahan kerupuk atau sambal tergantung selera.

Satu di antara penjual bubur blendrang yang masih eksis yakni Sriyati (49), warga Dusun Nepen, Desa Gunungpring, Kecamatan Muntilan, Kabupaten Magelang .

Ia mengaku, sudah  berjualan bubur blendrang sekitar dua tahunan.

Awalnya, dirinya berjualan keliling di beberapa sekolah dasar yang ada di sekitar Kecamatan Muntilan .

Namun, akibat diterpa pandemi sekolah-sekolah ditutup membuat dirinya terpaksa berjualan di rumahnya.

"Sebelum ada pandemi Covid-19, saya berjualan blendrang keliling ke beberapa sekolah yang ada di Muntilan. Saat ada pandemi sekolah-sekolah tersebut libur sementara waktu, sehingga saya memutuskan untuk berjualan di rumah,” terang ibu dari tiga orang anak ini.

Ia menambahkan, olahan bubur blendrangnya masih memakai resep turun-temurun dari sang nenek.

Baca juga: Legit, Manis dan Segar! Berikut 5 Rekomendasi Bubur Jenang Sumsum di Jogja

Karena, baginya berjualan bubur blendrang tidak hanya sekadar untuk mencari uang melainkan juga untuk mempertahankan warisan kuliner dari leluhur.

"Dulu yang berjualan bubur itu, neneknya saya. Kemudian, setelah tidak berjualan lagi dilanjutkan dengan resep yang sama,"ujarnya.

Sementara itu, untuk harga satu mangkok blendrang kambing hanya dipatok dengan harga Rp7 ribu per mangkoknya, sedangkan blendrang ayam sedikit lebih murah, Rp5 ribu per mangkoknya. 

Dalam seharinya, dirinya mampu menjual bubur blendrang hingga 10 kilogram.

"Namun, untuk blendrang kambing hanya dijual pada hari tertentu yakni Sabtu, Minggu, dan Senin. Sedangkan, untuk blendrang ayam setiap hari selalu ada. Kalau bukanya setiap hari mulai jam 9 pagi,"ungkapnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved