Pemkab Kulon Progo Terima 16 Unit Alat Mesin Pertanian dari APBN

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo menerima bantuan alat dan mesin pertanian atau Alsintan pasca panen dari anggaran pendapatan

Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Sri Cahyani Putri Purwaningsih
Salah satu perwakilan dari kelompok tani di Kulon Progo menerima Alsintan dari Pemerintah Pusat guna meningkatkan kualitas produk pasca panen. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Sri Cahyani Putri Purwaningsih

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulon Progo menerima bantuan alat dan mesin pertanian atau Alsintan pasca panen dari anggaran pendapatan belanja negara (APBN) melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY. 

Total ada 16 unit Alsintan yang akan diserahkan kepada setiap kelompok tani di wilayahnya. 

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kulon Progo , Aris Nugroho mengatakan pemberian Alsintan bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk pengolahan pasca panen . 

Baca juga: Pengamat Budaya UMY : Kenaikan Tarif Candi Borobudur Abaikan Psikologi Politik Masyarakat 

Seperti mengurangi kehilangan hasil dan mencegah kerusakan produk padi dan jagung. 

DPP Kulon Progo menerima sebanyak 16 unit. Terdiri dari 1 unit power treasure, 7 unit power treasure multiguna dan sisanya concealer. 

"Dengan alat ini produksi beras lebih bersih dan kualitasnya premium. Di lain sisi, menarik generasi muda karena prosesnya lebih cepat," ucapnya, Selasa (7/6/2022). 

Dijelaskan Aris, tingkat kehilangan gabah bisa mencapai 10 persen jika menggunakan alat pertanian yang lama. Dikarenakan gabah yang akan dirontokkan bertaburan. 

Sedangkan menggunakan alat yang baru, gabah bisa dimasukkan dan langsung terpisah di dalam mesin. 

Baca juga: Pengembangan Kasus Suap Royal Kedhaton, KPK Periksa Sejumlah Berkas IMB Hotel di Yogyakarta

Ketua Kelompok Tani Bina Mandiri, Ngasiyo berharap alsintan yang baru bisa mengurangi biaya operasional. 

"Karena biaya operasional dengan alat perontok padi yang lama sangat tinggi. Sehingga adanya alat ini membantu petani di Kelompok Tani Bina Mandiri Paingan," ungkapnya. 

Dikarenakan setiap 1.000 meter sawah bisa menggunakan tenaga kerja 6-7 orang. Dengan biaya operasional yang harus dikeluarkan Rp 70.000 per orang. (scp) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved