Gilangharjo Dipilih Sebagai Kalurahan Percontohan Program WoW Mantul
19 ribu ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia akan disebar di 519 padukuhan yang tersebar di 38 kalurahan, 11 kapanewon.
Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bantul melalui Dinas Kesehatan memperluas penyebaran nyamuk ber-Wolbachia untuk menekan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) di Bumi Projotamansari.
Melalui program Wolbachia Wis Masuk Bantul (WoW Mantul), 19 ribu ember berisi telur nyamuk ber-Wolbachia akan disebar di 519 padukuhan yang tersebar di 38 kalurahan, 11 kapanewon.
Kepala Seksi Pengendalian Penyakit (P2), Dinas Kesehatan Bantul, dr Abednego Dani Nugroho, mengatakan saat ini sudah belasan ribu ember yang berisi telur nyamuk telah dibagikan kepada masyarakat di berbagai padukuhan yang ada di Kabupaten Bantul.
"Seperti di Kalurahan Gilangharjo, ada lebih dari 400 ember yang berisi telur dibagikan kepada warga yang ada di 15 padukuhan," ujarnya, Senin (30/5/2022) kemarin.
Ia mengatakan WoW Mantul merupakan program pelengkap pengendalian DBD yang dilaksanakan Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Word Mosquito Program (WMP) DIY dan didukung Yayasan Tahija.
Dalam implementasinya Dinas Kesehatan Bantul bekerja sama dengan 18 puskesmas dan didukung oleh sekitar 3.200 kader kesehatan.
Menurut Abednego, program WoW Mantul tidak lepas angka kasus DBD yang seringkali tinggi di Bantul dibanding dengan kabupaten lainnya di DIY.
Dalam catatannya, kasus terdapat 230 kasus DBD di Bantul hingga akhir Mei 2022.
Khusus untuk di Kapanewon Pandak terdapat 13 kasus yang tersebar di Kalurahan Triharjo empat kasus, Kalurahan Gilangharjo dua kasus, Kalurahan Wijirejo terdapat tujuh kasus dan Kalurahan Caturharjo nol kasus DBD.
Namun demikian, tak ada pasien DBD di Kapanewon Pandak yang meninggal.
Abednego menyatakan bahwa dari hasil uji efikasi Wolbachia di Kota Yogyakarta dan Kabupaten Sleman, teknologi Wolbachia ini terbukti efektif menurunkan 77 % kasus DBD dan menurunkan 86 kasus DBD yang dirawat di rumah sakit.
"Harapannya minimal efikasinya sama, atau kalau bisa efikasinya lebih tinggi untuk daerah Bantul," ungkapnya.
Sementara Lurah Gilangharjo, Pardiyana mengatakan Kalurahan Gilangharjo menjadi salah satu kalurahan percontohan untuk penanggulangan DBD di Bantul dengan program WoW Mantul yang sebelumnya telah diluncurkan oleh Dinas Kesehatan Bantul pada 24 Mei 2022 yang lalu.
"Ember-ember yang berisi telur nyamuk yang berjumlah ratusan dari Dinas Kesehatan ini akan kita langsung distribusikan ke tingkat padukuhan, tingkat RT hingga diberikan langsung kepada masyarakat yang bersedia menjadi orangtua asuh (OTA) hingga nantinya nyamuk menetas dan menjadi nyamuk dewasa dan siap berkembang biak," terangnya.
Ia berharap akan semakin banyak ember nyamuk ber-Wolbachia yang diberikan kepada masyarakat.
Dengan demikian kasus DBD di Kalurahan Gilangharjo dapat terus menurun bahkan tidak ditemukan kasus DBD lagi.
"Dengan program WoW Mantul ini nantinya kita berharap masyarakat lebih tahu, lebih bisa memahami penyebaran nyamuk sehingga bisa berpartisipasi dalam hal penanggulangan bahayanya nyamuk aedes aegypti," tandasnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-bantul_20180731_185700.jpg)