Keseruan Para Ibu di Karangmojo Gunungkidul Ikuti Bank Sampah 

Puluhan ibu-ibu sudah berkumpul di halaman Pasar Argo Midang, Pedukuhan Grogol 3, Kalurahan Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, Kamis (26/05/2022)

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Alexander Ermando
Para ibu Pedukuhan Grogol 3, Kalurahan Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul mengantre untuk menimbang sampah yang sudah dikumpulkan selama sebulan untuk kegiatan Bank Sampah. 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Puluhan ibu-ibu sudah berkumpul di halaman Pasar Argo Midang, Pedukuhan Grogol 3, Kalurahan Bejiharjo, Karangmojo, Gunungkidul, Kamis (26/05/2022) pagi.

Tiap orang pun tampak membawa satu sampai dua karung berisi penuh sampah.

Para ibu ini hendak "menjual" sampahnya ke pengepul. Karung berisi sampah kemudian ditimbang, didata, lalu dicatat dalam buku tabungan masing-masing.

Inilah kegiatan Bank Sampah di Grogol 3. Setiap sebulan sekali, puluhan ibu berdatangan dan menyerahkan sampahnya yang sudah terkumpul selama sebulan penuh.

Baca juga: Misteri Hilangnya dr Faisal Terungkap, Ternyata di Sebuah Penginapan Bersama Perempuan, Kata Polisi

"Sampahnya macam-macam, dari botol, kaleng, sampai sepatu saya jual ke Bank Sampah," tutur Suratmi, salah satu warga setempat.

Cukup lama sudah ibu rumah tangga ini menjadi anggota Bank Sampah. Setiap bulan ia kumpulkan sampah menumpuk dari rumah, dipilah jenisnya, lalu dijual ke pengepul.

Suratmi mengaku banyak manfaat yang ia dapatkan. Selain ada tambahan penghasilan, sampah dari rumah yang dulunya menumpuk kini bisa berkurang signifikan lewat dukungan Bank Sampah tersebut.

"Lingkungan rumah saya juga jadi lebih bersih, karena tidak ada sampah menumpuk," ujarnya.

Antusiasme ibu-ibu Grogol 3 dalam mengikuti Bank Sampah tak lepas dari peran Rusmini. Ia adalah warga setempat yang juga menjadi kader Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gunungkidul.

Rusmini ikut menginisiasi Bank Sampah di Karangmojo sejak 2018. Kini sudah puluhan bank sampah tercipta lewat kerja kerasnya, bahkan hingga di luar Karangmojo.

"Sekarang ini sudah 40 lebih Bank Sampah, terakhir terbentuk di Piyaman, Wonosari," kata wanita yang sehari-hari bekerja sebagai penjahit ini.

Sistem Bank Sampah yang sederhana pun juga mendorong para ibu rumah tangga tertarik untuk ikut bergabung. Cukup mengumpulkan, memilah, ditimbang, lalu hasilnya berupa uang yang disimpan dalam buku tabungan.

Warga setempat pun kini memiliki simpanan yang bisa digunakan saat dibutuhkan. Secara tak langsung, kegiatan ini turut membantu mengurangi beban di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS).

Baca juga: Ini Dia Kelebihan dan Spesifikasi Hp Xiaomi Redmi 10A Terbaru 2022, Hanya 1 Jutaan Saja

"Seperti tahun lalu saja dari satu bank sampah bisa diperoleh pendapatan Rp 15 juta sampai Rp 21 juta, lingkungan juga jadi lebih bersih dan sehat," kata Rusmini.

Ia pun berharap pengolahan sampah mandiri seperti ini bisa dilakukan oleh seluruh warga Gunungkidul. Peran besar pemerintah juga dibutuhkan untuk menggerakkan masyarakat agar peduli dalam penanganan sampah.

Beruntung, upaya Rusmini mendapat dukungan dari perangkat setempat. Dukuh Grogol 3, Ada Kinanti mengatakan ia juga tak lelah mengajak warganya untuk ikut bergabung dalam Bank Sampah, meski awalnya melewati banyak kendala.

"Meski cuma sedikit, tapi kegiatan seperti ini sangat bermanfaat bagi warga sendiri dan lingkungan kami juga," ujar Kinanti. (alx)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved