Musim Kemarau di DIY Bakal Berlangsung Cukup Panjang, Ini Prediksi BMKG

Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) Mlati Sleman, Reni Kraningtyas, mengatakan lama musim kemarau di DIY diprediksi berkisar 14 hingga 19 dasarian.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM / Ahmad Syarifudin
Ilustrasi cuaca panas 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sejumlah wilayah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan menjumpai musim kemarau yang bakal berlangsung cukup panjang.

Kepala Stasiun Klimatologi (Staklim) Mlati Sleman, Reni Kraningtyas, mengatakan lama musim kemarau di DIY diprediksi berkisar 14 hingga 19 dasarian.

Dengan satu dasarian berarti sepuluh hari menurut istilah meteorologi.

Kemudian, berakhirnya musim kemarau tahun ini diprediksi pada September dasarian 2  untuk wilayah Kulonprogo bagian Barat, lalu Oktober dasarian 1 untuk wilayah Kulonprogo bagian Selatan, serta Bantul bagian Barat.

Pada bulan yang sama yakni Oktober dasarian 2 wilayah Kulonprogo bagian Utara dan Sleman bagian Barat juga kemarau diprediksikan berakhir.

"Selanjutnya bulan Oktober dasarian 3 wilayah Gunungkidul dan Sleman bagian Utara juga Timur pun demikian," ujarnya.

Reni menuturkan meskipun musim kemarau tahun ini cenderung agak basah, tetapi perlu adanya mitigasi untuk menghadapi cuaca dan iklim ekstrem.

Pihaknya merekomendasikan langkah pencegahan terjadinya bencana kekeringan.

Diantaranya dengan menggunakan sumber air dengan hemat dan sesuai dengan kebutuhan sehari-hari.

Selain itu juga dianjurkan untuk melakukan penanaman pohon sebanyak mungkin di lingkungan sekitar rumah.

Warga masyarakat juga disarankan membuat tandon air di pekarangan rumah yang  berfungsi sebagai penampungan air.

Warga juga bisa memperbanyak daerah resapan air, sekaligus mengurangi penutupan saluran resapan air tersebut dengan plester atau bahkan ubin.

Serta, memberikan perlindungan kepada sumber-sumber air bersih yang tersedia, serta melakukan panen dan konservasi air.

"Dengan memperhatikan 5 hal diatas, maka kemungkinan akan terjadinya bencana kekeringan dapat diminimalisir sehingga tidak menimbulkan kurangnya ketersediaan air bagi makhluk hidup yang sangat berbahaya bagi tubuh dan kesehatan kita bersama," terang dia. (*)
 

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved