Berita DI Yogyakarta Hari Ini
Joko Pinurbo Luncurkan Buku Berjudul Epigram 60
Epigram 60 bukanlah sebuah karya biasa, tapi merupakan buku yang istimewa karena diluncurkan bersamaan dengan ulang tahun Jokpin ke-60 pada 11 Mei ini
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Gaya Lufityanti
Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tidak ada yang tidak kenal dengan penggalan sajak ‘Jogja terbuat dari rindu, pulang dan angkringan’ karya Joko Pinurbo .
Saking tenarnya, penggalan puisi itu dipampang di area Teras Malioboro 1, sebagai salah satu ikon foto baru di jantung wisata Kota Yogyakarta .
Tentu, itu kemudian menjadi penggalan favorit warganet yang bisa diucapkan saat mengenang Yogyakarta , tempat mereka merindu, berpulang dan mencicipi angkringan.
Menambah khasanah sajak-sajak indah bagi para pembaca, Joko Pinurbo atau yang akrab disapa Jokpin pun merilis satu buku lagi, berjudul Epigram 60.
Baca juga: Kumpulan Kata-kata Indah dan Syair Joko Pinurbo, Membuat Hati dan Pikiran Nyaman
Peluncuran buku itu diselenggarakan secara daring dan luring di Toko Buku Gramedia, Jalan Jenderal Sudirman No 54-56, Kota Yogyakarta dan kanal YouTube Gramedia, Senin (16/5/2022). Gelaran ini berkolaborasi dengan Olski.
Epigram 60 bukanlah sebuah karya biasa, tapi merupakan buku yang istimewa. Sebab, itu diluncurkan bersamaan dengan ulang tahun Jokpin ke-60 pada 11 Mei 2022 ini.
“Jadi, di buku Epigram 60 ini, jumlah puisinya sengaja saya bikin 60 buah, tidak lebih dan tidak kurang. Saya bersusah payah supaya jumlah puisinya 60. Kalau lebih ya harus disisihkan, kalau kurang ya ditambah,” katanya di sela-sela diskusi.
Demi menelurkan 60 puisi, Jokpin mengatakan dirinya selalu menabung kata-kata dengan mencatat segala diksi yang pernah ia temui.
Setelah tabungannya cukup banyak, ia pun segera membuka dan mengolah kata-kata itu menjadi satu puisi yang indah.
“Untuk membuat satu puisi, saya butuh satu kata kunci saja, tapi saya memang bukan orang yang spontan. Menabung agar ada kesinambungan ide antara puisi satu dan yang lain,” jelasnya.
Dalam acara peluncuran yang bertajuk ‘Jokpin Terbuat dari Puisi, Kopi dan Kegembiraan’, Joko mengajak para pembaca untuk menyelami pandangan dan harapannya dari buku tersebut.
Ia pun membagikan kisahnya, termasuk hal-hal yang ia syukuri dan membuatnya gembira di usia yang telah memasuki kepala enam ini.
Baca juga: Joko Pinurbo Menulis Puisi tentang Pandemi
“Kegembiraan saya masih diberi kekuatan mental bertahan di dunia puisi yang sejujurnya tidak memberikan kesejahteraan finansial,” ujarnya, langsung ke inti.
“Tapi, saya kira juga tidak semua orang sanggup bertahan di dunia seni, yang tidak memberikan kegemerlapan apapun, tetapi penting untuk ditekuni. Kalau tidak ada yang menekuni, peradaban bahasa kita tidak maju,” bebernya.
Rasa senang itu juga dia tuangkan dalam buku Epigram 60 yang sudah bisa Anda beli di Gramedia .
Menurutnya, buku itu merangkum kebahagiaan dan semua kecenderungan tematik maupun teknik yang pernah dia lakukan di buku-buku sebelumnya.
“Jadi, ini buku yang wajib dimiliki karena hanya sekali saya berulang tahun ke-60,” kelakarnya.
Meski memperlihatkan kebahagiaan seorang Jokpin berusia 60 tahun, tapi penyair kelahiran 1962 itu enggan terjebak di romantisme Yogyakarta, tema yang sering ia kulik di ratusan karyanya.
Sisi-sisi getir dari kota ini pun dia gali lebih dalam dan dijadikan puisi, termasuk bagaimana polemik sampah, Upah Minimum Regional (UMR) rendah hingga harga tanah tinggi.
“Ironi, karena sebenarnya Yogya itu kadang menyebalkan. Banyak klitihnya, tata ruang tidak karuan, kadang lalu lintas semrawut, terakhir urusan pembuangan sampah bermasalah, tapi banyak orang kangen,” kata dia.
Jokpin kemudian menjelaskan, sebagai orang Yogyakarta, dia tidak tutup mata dengan problematika yang terjadi di daerah ini.
“Saya sudah memulai mengeksplor kegetiran Yogyakarta. Di buku Kepada Cium, ada juga semacam puisi meramalkan akan terjadi perubahan sosial, seperti munculnya kafe. Itu sudah teramalkan di puisi Surat dari Yogya, 15 tahun lalu,” terangnya.
Baca juga: Agus Noor dan Rieke Diah Pitaloka Berbagi Puisi Tentang Pandemi
“Tapi saya tetap cinta Yogya kog, mbok okeh klitih,” tambahnya sembari tertawa.
Di usia enam dekade ini, ternyata Jokpin juga sering mengalami overthinking saat membuat puisi.
Ia berkelakar, jika boleh, dirinya ingin merevisi puisi-puisi yang pernah dia buat agar hasilnya bisa lebih bagus.
“Namun, buat apa? Bukunya sudah terbit. Daripada revisi karya yang tidak memuaskan, mending saya buat karya baru. Itu saya anggap semacam revisi terhadap karya yang saya tulis,” tambahnya.
Lantas, apa yang bakal dirilis Jokpin untuk proyek selanjutnya?
“Wah, saya belum memikirkan, tapi tahu-tahu jadi. Pasti saya masih berkarya,” ujarnya.
Dia pun berterimakasih kepada Gramedia Pustaka Utama yang menerbitkan Epigram 60 dan berharap 60 puisinya bisa menjadi karya yang menemani pembaca melewati hari-hari. ( Tribunjogja.com )