Minat Vaksin Booster Warga DI Yogyakarta Menurun Usai Libur Lebaran 2022
Minat masyarakat untuk menjalani vaksinasi penguat atau booster mengalami penurunan usai libur panjang Idulfitri 1443 H.
Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Minat masyarakat untuk menjalani vaksinasi penguat atau booster mengalami penurunan usai libur panjang Idulfitri 1443 H.
Ketua Satgas Percepatan Vaksinasi Covid-19 DIY, Sumadi menuturkan, permintaan masyarakat untuk mendapat suntikan booster sempat meningkat signifikan di bulan Ramadan hingga menjelang Lebaran .
Tingginya permintaan kala itu disebabkan karena pemerintah menjadikan vaksin booster sebagai syarat untuk mudik.
Baca juga: Lancar Berbahasa Korea, Boy William Dipuji Ji Chang Wook dan Choi Sung Eun
Warga yang sudah divaksin hingga dosis ketiga tidak diwajibkan menyertakan hasil negatif tes RT-PCR atau rapid test antigen ketika bepergian.
"Minat sudah agak sedikit berkurang tidak seperti kemarin tetapi kita tetap menyiapkan (layanan vaksinasi Covid-19)," terang Sumadi, Sabtu (14/5/2022).
Dia menjelaskan, minat vaksin yang tinggi terlihat dari pendataan cakupan vaksinasi di bulan Ramadan. Dalam waktu hampir satu bulan cakupan vaksin melesat dari sekitar 25 persen menjadi 32 persen.
Artinya, dari total sekitar 2,8 juta sasaran, sebanyak 196 ribu warga tercatat telah menjalani vaksinasi booster atau sebanyak 6.500 sasaran dalam sehari.
Namun usai musim libur lebaran berakhir, minat vaksin langsung anjlok di mana rata-rata hanya ada sekitar 2.500 hingga 3.000 orang saja yang memanfaatkan layanan vaksin booster tiap harinya.
"Tapi ya Alhamdulillah karena sampai akhir bulan targetnya sudah mencapai sesuai yang kita harapkan yakni di atas 32-33 persen. Kita masih terus mendorong karena capaiannya saja kan baru 30-an persen.," bebernya.
Pria yang juga menjabat Asisten Sekda Bidang Pemerintahan Pemda DIY ini menjelaskan, cakupan vaksin booster tertinggi berada di Kota Yogya yakni mencapai 81 persen. Kemudian disusul Sleman sebesar 34 persen, dan Gunungkidul 25 persen.
Adapun Kabupaten Kulon Progo baru berkisar 21 persen dan.Bantul 20 persen.
Sumadi mengaku tidak bisa memaksakan kehendak agar masyarakat mau menjalani vaksinasi .
Terlebih ada warga yang memang tidak bisa mendapatkan vaksin Covid-19. Terutama karena pertimbangan kondisi kesehatan.
“Vaksin tetap jalan, tapi kalau sudah tidak mau terus gimana. Ini karena memang ada komorbid (penyakit penyerta), sehingga tidak bisa menerima vaksin," bebernya.
Sumadi memastikan bahwa Pemda DIY tetap membuka layanan vaksinasi yang tersebar di seluruh puskesmas serta sejumlah RS.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/ilustrasi-vaksin-booster.jpg)