Citizen Journalism
Standar Puasa; Lahirkan Manusia Ihsan
Allah SWT menciptakan hidup dan mati, tidak lain, untuk menguji siapa di antara kita yang lebih baik amalannya.
Dr Tulus Musthofa Lc MA
Ketua MUI DIY Bidang Dakwah
Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
PADA era modern, segala sesuatu selalu memiliki standar sendiri, mulai peralatan yang dipakai, sistem yang digunakan, hingga sumber daya yang tersedia.
Produk yang sudah memiliki standar tentu akan mendapat kepercayaan lebih dibanding yang tidak berstandar.
Bahkan, dalam dunia pendidikan, umpamanya, terdapat BANPT atau Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.
Setiap periode tertentu, lembaga pendidikan diakreditasi oleh BANPT.
Standarisasi ini sesuai dengan semangat ajaran Islam yang selalu menekankan kebaikan atau ihsan dalam segala hal.
Allah SWT menciptakan hidup dan mati, tidak lain, untuk menguji siapa di antara kita yang lebih baik amalannya.
Rasul juga menegaskan, sesungguhnya Allah mewajibkan segala sesuatu supaya baik sehingga kebaikan seharusnya menjadi arus normal dalam kehidupan.
Menyembelih hewan, misalnya, Rasulullah menekankan dengan cara yang baik, yakni menajamkan pisau.
Dalam ayat Alquran pun banyak ditemukan klausul mengenai kebaikan atau ihsan.
Seperti ungkapan "Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat baik".
Dalam standar kebaikan ibadah, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa ihsan adalah ketika seseorang beribadah seolah-olah melihat Allah SWT.
Hal seperti itu merupakan standar yang paling tinggi.
Untuk mencapai standar ibadah yang ihsan memang tidak mudah.
Buruh proses agar bisa mencapai standar tersebut.
Jika belum mampu salat yang demikian, level di bawahnya dengan salat yang merasakan bahwa Allah SWT senantiasa melihat.
Salat dengan merasa dilihat Allah dengan yang tidak, hasilnya akan berbeda.
Ketika merasa dilihat Allah, maka akan baik dan berdampak luar biasa dalam menumbuhkan kekuatan, energi spiritual, terbangunnya integritas, serta hal-hal positif yang menyertai.
Jika tidak, maka salat hanya rutinitas tanpa berefek positif.
Begitu pula dalam menjalankan ibadah puasa saat Ramadan.
Standar puasa yang baik manakala sepanjang puasa tidak lepas dari ingatan kepada Allah SWT.
Mengisi puasa dengan berbagai kebaikan, memperbanyak ibadah yang semuanya membentuk atmosfer dzikir kepada Allah.
Hasil puasa yang demikian tentu akan berbeda dengan orang yang puasa namun banyak menghabiskan waktu dengan hal-hal yang bertentangan dengan maksud puasa itu sendiri.
Ada tiga level standar puasa yang disebutkan oleh Imam Alghazali.
Pertama, standar minimalis, yakni hal-hal terkait syarat, rukun, sah tidaknya, dan yang membatalkan puasa.
Disebut standar minimal karena puasa hanya menggugurkan kewajiban, tetapi tidak memberi efek apapun, seperti tujuan menjadikannya bertakwa.
Bahkan, nabi mensinyalir, banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan dahaga.
Begitu juga orang berpuasa namun tidak bisa meninggalkan dusta, baik perkataan maupun perbuatan, maka tidak ada kepentingan bagi Allah bahwa ia puasa.
Kedua, standar medium, yakni seluruh anggota badan ikut berpuasa dengan mengendalikannya tidak melakukan dosa.
Ketiga adalah standar puasa maksimal, yakni ketika puasa hati senantiasa ingat Allah SWT atau seolah-olah melihat Allah SWT.
Paling tidak, dalam segala gerak-gerik, ia merasa dilihat oleh Allah.
Hakikatnya, semua ibadah ketika Allah memerintahkan kepada kita untuk menjalankan tidak semata-mata ritual.
Setiap ibadah sebetulnya sedang membentuk karakter manusia atau akhlak setiap Muslim.
Salat, umpamanya, banyak sekali akhlak yang ditanamkan, seperti disiplin, kebersihan, hingga pendidikan politik.
Begitu juga puasa, berbagai akhlak ditanamkan melalui puasa, seperti supaya ikhlas, peduli terhadap lingkungan, syukur, sabar.
Oleh karena itu, supaya semua tujuan tercapai, maka harus dilakukan sesuai standar maksimal dengan konsep ihsan.
Allahumma a'inna 'ala dzikrika wasyukrika wahusni ibadatika. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Dr-Tulus-Musthofa-Lc-MA-2.jpg)