11 Tahun Tribun Jogja

Kisah Mahasiswa Kangen Balik Jogja untuk Belajar Tatap Muka

Kuliah tatap muka mahasiswa di Jogja kapan dimulai. Inilah cerita mahasiswa kangen belajar tatap muka

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA/MIFTAHUL HUDA
Petunjuk arah menuju Malioboro di kawasan Tugu Pal Putih Yogyakarta 

Kapan bisa kuliah lagi di Yogyakarta? Pertanyaan tersebut setidaknya pernah terbesit di benak para mahasiswa yang menempuh studi di DI Yogyakarta. Sudah lebih dari dua tahun, mereka tidak menginjakkan kaki di daerah yang dijuluki kota pelajar ini lantaran kebijakan kuliah daring.

101 PT swasta dan 5 PT negeri di DIY menggelar PTM meski masih secara hybrid.
101 PT swasta dan 5 PT negeri di DIY menggelar PTM meski masih secara hybrid. (ugm.ac.id)

MEREKA yang awalnya bisa duduk di ruang kelas, mau tidak mau harus menerima pembelajaran via platform daring dari rumah untuk menghindari kerumunan demi menekan penyebaran virus corona.

Aldi Faik Setiawan, salah satu mahasiswa Program Studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Islam Indonesia (UII) merasa kaget dengan kebijakan kuliah daring.

Saat itu, wacana dari kampus, kuliah daring hanya dilakukan selama dua minggu saja, tapi tiba-tiba jadi dua tahun.

“Saya mahasiswa angkatan 2019. Jadi sudah sempat satu semester kuliah di ruang kelas UII, lihat proyektor, lihat gedung, interaksi sama dosen, teman dan tenaga pendidikan lain. Kemudian, semester berikutnya sudah harus kelas daring,” katanya membuka percakapan dengan Tribun Jogja, Minggu (10/4/2022).

Perubahan yang serba cepat itu memaksa Faik untuk segera menyesuaikan diri dengan keadaanya, khususnya di bagian mengoperasikan platform mengajar daring, seperti Zoom maupun Microsoft Team.

Ia tidak pernah mengira dirinya harus melakukan kuliah tanpa tatap muka karena Covid-19 yang mulai merebak di DIY kala itu.

“Kuliah daring bisa jadi jalan mengikuti studi sembari menekan angka Covid-19, tapi pasti ada sisi enggak enaknya. Saya sering mengalami kendala di segi jaringan dan itu membuat saya jadi sulit untuk menerima materi,” bebernya.

Jaringan di kampung halaman Faik, di Pati, Jawa Tengah tidak begitu baik. Terkadang, ia harus bergelut dengan kondisi dimana dia tidak dengar apa yang para dosen bicarakan.

“Sinyal sering gangguan. Suara yang harusnya maksimal jadi putus-putus. Nah, ini dampaknya ke saya yang jadi sulit menerima materi kuliah,” bebernya.

Apalagi, dia berprinsip bahwa pembelajaran akan bisa terserap secara penuh apabila dilakukan secara tatap muka antara dosen dan mahasiswa.

Satu semester atau sekitar enam bulan kuliah luring menjadi kenangan yang cukup indah untuk Faik. Dia pun berharap, di semester depan, kuliah tatap muka bisa segera diselenggarakan.

Sebab, senyaman-nyamannya kuliah daring, tetap saja, studi secara luring lebih memberikan perasaan menjadi mahasiswa seutuhnya.

“Kalau kuliah daring, saya rasa, pemberian tugas itu lebih banyak dari kuliah luring. Dosen semua memberi tugas. Kalau pas saya kuliah luring dulu, tugas itu tidak sebanyak ini. Jadi, semoga semester depan sudah bisa datang ke kampus,” papar Faik lagi.

Ia kangen kampus. Dia kangen mengikuti organisasi dan berinteraksi dengan teman-temannya, menjawab dan mengajukan pertanyaan pada dosen tentang hal yang tidak diketahui.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved