Berita Gunungkidul Hari Ini

Terpengaruh Pandemi, Kasus Tuberkulosis di Gunungkidul Alami Penurunan

Kasus Tuberkulosis yang ditemukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mengalami penurunan. Adapun penurunan ini banyak dipengaruhi

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Suluh Pamungkas
Berita Gunungkidul 

TRIBUNJOGJA.COM, GUNUNGKIDUL - Kasus Tuberkulosis yang ditemukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Gunungkidul mengalami penurunan. Adapun penurunan ini banyak dipengaruhi oleh situasi pandemi Covid-19.

Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM), Dinkes Gunungkidul , Diah Prasetyorini mengungkapkan penurunan mencolok terlihat antara 2020 dan 2021 lalu.

"Kalau 2020 penemuan kasus Tuberkulosis sampai 26 persen, 2021 lalu hanya 12 persen,"  kata Diah ditemui pada Rabu (30/03/2022).

Baca juga: Pemkal Kaliagung Kulon Progo Gelar Tradisi Nyadran Agung Sekaligus Peringatan HUT ke-75

Menurutnya, faktor terbesar yang mempengaruhi penurunan penemuan kasus Tuberkulosis adalah pandemi Covid-19.

Sebab gejala awal Tuberkulosis memiliki kemiripan dengan Covid-19, yaitu batuk.

Warga yang bergejala Tuberkulosis pun enggan memeriksakan diri karena takut akan didiagnosa terpapar Covid-19.

Selain itu, mereka juga khawatir akan terpapar penyakit lain saat datang ke fasilitas kesehatan (faskes) terdekat.

"Belum lagi stigma Tuberkulosis yang masih negatif di masyarakat, dan bisa berdampak pada kehidupan sosial-ekonomi penderitanya," jelas Diah.

Berdasarkan data yang dimiliki, pada 2021 lalu terdapat 266 kasus Tuberkulosis yang ditemukan.

Menurutnya, hampir semua kasus yang ditemukan ini sembuh setelah menjalani pengobatan.

Sedangkan di 2022 ini, Diah mengaku belum ada data rinci. Pasalnya diperlukan proses validasi setiap 3 bulan sekali.

"Jadi untuk 2022 ini, data kasus Tuberkulosis bisa dikatakan belum ada," ujarnya.

Baca juga: Jawa Tengah Bukan Provinsi Termiskin di Jawa, Ini Penjelasan Lengkap BPS

Kepala Dinkes Gunungkidul Dewi Irawaty menyampaikan ada ciri-ciri gejala yang bisa dicurigai sebagai Tuberkulosis .

Paling mencolok adalah batuk yang tidak sembuh selama lebih dari 2 minggu.

Selain itu, secara fisik tubuh penderitanya akan mengalami penurunan berat lantaran kurangnya nafsu makan.

Ia mengatakan seluruh kelompok masyarakat rentan terpapar penyakit yang bersumber dari bakteri ini.

"TB juga bisa menyerang paru-paru, tulang, atau kulit, tapi yang paling banyak kasusnya adalah TB paru-paru," kata Dewi. (alx)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved