Seni Di Kala Pandemi

Seni mengingatkan kita bahwa kita tak pernah sendirian. Seni mendorong kita berbagi pengalaman universal

Seni Di Kala Pandemi
Ist
Budi Irawanto, Kaprodi Doktor Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa ,Sekolah Pascasarjana, UGM

*Oleh: Budi Irawanto, Kaprodi Doktor Pengkajian Seni Pertunjukan  dan Seni Rupa ,Sekolah Pascasarjana, UGM

MENDUNG ketidakpastian masih saja bergelayut, meski pandemi telah berjalan hampir tiga tahun. Kendati program vaksiniasi massal terus digalakkan, ia seakan berkejaran dengan munculnya virus varian baru. Lebih dari 150 ribu orang meninggal dunia dari 5 juta orang Indonesia yang terpapar virus corona.  Sebanyak 2 juta orang kehilangan pekerjaan. Pandemi mengguncang pelbagai aspek kehidupan, tak terkecuali seni

Apa boleh buat, pembatasan fisik dan sosial menyulitkan menggelar acara seni. Para seniman pertunjukan seakan menghadapi jeda panjang di masa pandemi. Di awal pendemi, Koalisi Seni mencatat 234 acara kesenian (festival, konser, pertunjukan) ditunda atau dibatalkan.Diberitakan sekitar 38.000 pekerja seni menghadapi ketidakpastian penghasilan. 

Meski begitu, di masa pendemi seni tak pernah mati dan kehilangan daya kreatifnya. Bagi sebagian seniman, pandemi agaknya menjadi momen kontemplatif bagi lahirnya karya yang bernas. Adaptasi lewat protokol kesehatan yang ketat malah menciptakan alur kerja yang efisien. Menariknya, film Indonesia yang diproduksi selama pandemi justru mengukir prestasi di kancah internasional seperti Yuni karya Kamila Andini dan Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Edwin. 

Bahkan, proses adaptasi itu telah berubah menjadi laku kreatif itu sendiri. Misalnya, kelompok teater boneka Papermoon melakukan terobosan pementasan cerita dengan konsep 'Story Tailor.' Papermoon mengundang penonton untuk mengirimkan tiga kata. Dari kata-kata itu,mereka merekam pertunjukan yang dikirim kembali ke pemesannya lewat video WhatApp. Sehingga setiap orang mendapatkan pertunjukan yang berbeda.   Ini mengubah pentas teater yang lazimnya di depan banyak audiens menjadi pertunjukan  intim dan personal.

Sementara itu, seni juga membantu merekam kondisi di masa pandemi. Ia menunjukkan mala dan kepedihan serta menyalakan harapan. Pengalaman hidup di masa pandemi pun bisa diekspresikan melalui seni.Perupa Agus Suwage dalam gelaran ArtJog 2020 menggubah lukisan kondang Leonardo Da Vinci bertajuk Portrait of a Lady with an Ermine (1490) dengan menambahkan masker pelindung pada sosok lukisannya (Cecillia Gallerani) disertai droplet yang berjatuhan dari angkasa. Lukisan Suwageyang bertajuk Droplet Series—After Da Vinci itu menyiratkan pesan bahwavirus corona bisa mengancam siapa pun (bahkan sosok dalam lukisan). Dan mengenakan masker pelindung menjadi bentuk kenormalan baru.  

Kita tahu, seni tak hanya membantu memahami diri kita sesungguhnya, tapi juga orang lain. Seni mendorong saling pengertian di antara komunitas yang berbeda. Di masa pandemi, seni mengasah kepekaaan kita terhadap penderitaan pihak lain.Seni mampu menawarkan solusi alternatif dan kreatif terhadap dampak serius pandemi. Lewat bahasa visual, seni bisa menjadi pemandu di saat krisis demi kemaslahatan bersama. 

Seni memang bukan penyembuh di masa pandemi. Namun mungkin ia bisa membantu proses penyembuhan itu dan turut menjaga kesehatan kita. Sejumlah riset mengindikasikan bahwa menciptakan dan menikmati karya seni bisa mengurangi ketegangan, meningkatkan sistem kekebalan, dan berkontribusi positif bagi kesehatan mental kita. Tak aneh, aktivitas membuat karya seni atau kriya menjadi popular ketika orang diharuskan berdiam diri di rumah di masa pandemi.  

Demikianlah, seni justru sangat dibutuhkan kehadirannya ketika pandemi. Seni mengingatkan kita bahwa kita tak pernah sendirian. Seni mendorong kita berbagi pengalaman universal:  hidup di tengah pandemi. Dengan kata lain, lewat seni, kita bisa merasakan kebersamaan emosi yang dalam, membangun koneksi serta menciptakan dampak bagi kemaslahatan bersama.(*)

 

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved