Metaverse: Jeratan Kapitalisme

Ditulisan ini saya akan memberikan opini saya yang didasari dari beberapa fakta dilapangan yang mampu membuka tabir para pembaca

Ist
Deden Hardan Gutama, S.Kom, M.Kom, Dosen S1 Informatika Universitas Alma Ata 

METAVERSE, bayangan imajiner yang hingga saat ini menjadikan facebook berganti nama menjadi “meta” dan Mark juga memberikan statement yang cukup menggemparkan karena dalam wawancara dia berencana akan menggelontorkan dana sebesar 10 miliar dollar atau setara 140 triliun rupiah ditahun 2022 ini untuk infrastruktur metaverse. Nah apa sih metaverse itu dan apakah prospek kedepan bagus?

Ditulisan ini saya akan memberikan opini saya yang didasari dari beberapa fakta dilapangan yang mampu membuka tabir para pembaca mengenai dunia virtual ini. Metaverse adalah jaringan luas dari dunia virtual tiga dimensi yang bekerja secara realtime dan persisten berbasis blockchain serta mendukung kesinambungan identitas, objek, sejarah, pembayaran, dan hak yang mana dialami secara serempak oleh pengguna yang tidak terbatas.

Perumpamaan yang lebih kongrit adalah sebuah dunia yang dianggap indah dan siapapun bisa tinggal disana, dan perusahaan-perusahaan dapat membangun infrastruktur didunia tersebut untuk menjajakan dagangan mereka. Nah metaverse kurang lebih seperti itu, siapapun bisa berjualan disana dan bisa jadi apa saja.

Kasus yang sedang viral beberapa bulan lalu mengenai “alun-alun kota DIY dijual di metaverse” itu adalah segelintir contoh rantai atas ekonomi yang ada pada dunia metaverse. Ya! Jadi Anda bisa memiliki tanah di metaverse dan anda dapat membangun bangunan diatasnya baik itu untuk untuk disewakan maupun rumah tempat tinggal bahkan anda bisa memasang billboard di depan rumah anda yang ada di metaverse untuk disewakan ke perusahaan yang ingin beriklan. Lalu apakah ada yang mau? Jawabannya adalah “ada”, ada banget. Lalu apa dampaknya? 

Banyak dampak yang akan terjadi jika metaverse ini sudah massive digunakan oleh masyarakat, mulai dari sisi kesehatan hingga keuangan mulai dari baik maupun buruk, okey untuk dampak baik kita sudah sebutkan beberapa diatas, lalu baiknya apa lagi?

Dampak baiknya selain diatas adalah perputaran ekonomi akan lebih luas dan cepat, karena di ibaratkan kita mulai dari 0 sebuah peradaban, ketika jaman nenek kita di tahun 1900an harga tanah masih di posisi ribuan rupiah dan itu sudah dapat ratusan meter, lalu sekarang? Sudah naik ratusan persen.

Nah dengan ekonomi kita saat ini seminim-minimnya dengan uang Rp15.300 (token crypto 1.06 USDT) kita sudah bisa memiliki tanah dengan ukuran 100m2 di dunia metaverse, dan untuk asset kita ini terjaga dengan baik dari pencaplokan pengguna lain karena berbasis blockchain dan menggunakan otentikasi dari NFT.

Murahnya tanah akan mempercepat ekonomi di dunia metaverse ini, nah karena ekonomi yang cepat ini maka akan menciptakan sebuah ketimpangan ekonomi luar biasa, sekarang sudah banyak orang kaya yang mulai masuk di dunia metaverse sehingga semakin penuh dunia metaverse maka harga akan semakin murah karena persaingan, para tuan tanah akan memberikan harga yang tidak masuk akal dan pekerja yang terlambat membeli asset akan berusaha mati-matian mencari pekerjaan dimetaverse, giliran dapat kerja gaji sangat minim karena padatnya persaingan, demand jauh melampaui supplay.

Yang kaya semakin kaya yang miskin gigit jari. Haha okey ada hal yang mungkin akan mengurungkan niat anda untuk berinvestasi ke metaverse, hasil penelusuran saya bahwa memang benar metaverse berbasis blockchain, namun yang jadi “Pertanyaan Besar” adalah “Ada berapa blockchain? Ada berapa penyedia?” saat ini yang terbaik ada tiga yaitu sandbox, axie infinity, the next earth,  dan decentraland.

Masing-masing memiliki blockchain sendiri yang artinya mereka punya dunia sendiri. Jika kita berinvestasi tanah di tengah kota Yogyakarta ke decentraland, lalu di the next earth juga tanah tersebut available untuk dipinang. Jika decentraland tidak laku maka masyarakat metaverse akan berpindah ke blockchain lain dan al hasil hasil investasi anda di decentraland akan zonk tidak laku.

Sekali lagi ini contoh sample dari kekurangan metaverse yaa.. kita tidak tahu antara ke empat metaverse tersebut kedepan mana yang akan maju dan ada lagi berapa metaverse yang akan muncul. Berhati-hatilah dengan jeratan kapitalis.  (*)

*Oleh: Deden Hardan Gutama, S.Kom, M.Kom, Dosen S1 Informatika Universitas Alma Ata
 
 
 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved