Perang Rusia Ukraina

Perang Rusia Ukraina: Intelijen Rusia Bicara Soal Nuklir, SVR: Amerika Tahu Itu

Perang Rusia Ukraina Perang Rusia Ukraina Perang Rusia Ukraina Perang Rusia Ukraina Perang Rusia Ukraina Perang Rusia Ukraina

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
HANDOUT / JOINT FORCES OPERATION PRESS SERVICE / AFP
Foto yang dirilis Joint Forces Operation Press Service pada 4 Maret 2022. Foto itu diklaim sebagai puing-puing pesawat Sukhoi Su-25 Rusia di luar kota Volnovakha. 

Tribunjogja.com - Pada akhir perang dingin, Ukraina adalah negara ketiga yang memiliki persenjataan nuklir terbesar di dunia.

Runtuhnya Uni Soviet membuat Ukraina sebagai negara yang saat itu baru merdeka memiliki setidaknya 5.000 senjata nuklir.

Selain itu, pangkalan militer Ukraina juga menyimpan sejumlah rudal jarak jauh.

Namun beberapa puluh tahun lalu, Ukraina memilih melucuti senjata nuklirnya dengan imbalan jaminan keamanan.

Denuklirisasi itu dilakukan Ukraina dengan menandatangani Memorandum Budapest.

Hingga pada akhirnya, Presiden Vladimir Putin pada 24 Februari memerintahkan untuk meluncurkan operasi angkatan bersenjata Rusia di Ukraina.

Vladimir Putin menyebut itu bagian upaya demiliterisasi dan denazifikasi.

Kini The Russian Foreign Intelligence Service (SVR) menyebut Ukraina sedang bekerja membangun senjata nuklir.

Itu artinya ancaman Presiden Volodymyr Zelensky untuk mengabaikan Perjanjian Budapest "bukanlah janji kosong".

Sebab Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky sempat mengancam akan menarik Ukraina dari Perjanjian Budapest.

Naryshkin juga menyebut Ukraina bakal menciptakan persenjataan nuklir melebihi Iran dan Korea Utara.

"Tidak hanya [Rusia] tahu tentang ini, tetapi Amerika juga tahu."

"Mereka tidak hanya ikut campur dalam rencana, tetapi juga siap untuk membantu Ukraina, tampaknya berharap nuklir Ukraina tidak ditujukan ke barat, tetapi ke timur."Kata Kepala Dinas The Russian Foreign Intelligence Service, Sergei Naryshkin dari Sputniknews, JUmat (4/3/2022)

Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov mengatakan Moskow tidak dapat membiarkan senjata yang akan mengancam Rusia di wilayah Ukraina.

Oleh sebab itu Presiden Vladimir Putin memerintahkan mendemiliterisasi dan "denazifikasi" negara tersebut.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved