Perang Rusia Ukraina

Korea Utara Sebut Standar Ganda AS Sebagai Biang Konflik Rusia dan Ukraina

Korea Utara menuduh AS secara tidak adil mencampuri urusan dalam negeri negara lain tanpa memperhatikan perdamaian dan stabilitas

Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar

TRIBUNJOGJA.COM - Korea Utara mengeluarkan pernyataan resmi terkait konflik Rusia dan Ukraina. Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyebut bahwa standar ganda Amerika Serikat adalah biang konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina.

“Akar penyebab krisis Ukraina juga terletak pada sikap sewenang-wenang dan kesewenang-wenangan AS,” demikian dalam sebuah komentar yang diposting ke situs web Kementerian Luar Negeri Korea Utara pada hari Sabtu berbunyi.

Pernyataan itu berpendapat bahwa Washington telah mengejar supremasi militer dengan mengabaikan permintaan sah Rusia untuk keamanannya.

Ia menuduh AS secara tidak adil mencampuri urusan dalam negeri negara lain tanpa memperhatikan perdamaian dan stabilitas dan mengabaikan langkah-langkah pertahanan diri yang diambil oleh negara lain, termasuk Rusia.

Anggota sipil dari unit pertahanan teritorial memasang senjata mereka untuk mengusir pasukan penyerang Rusia di Keiv, Ukraina, Sabtu, 26 Februari 2022.
Anggota sipil dari unit pertahanan teritorial memasang senjata mereka untuk mengusir pasukan penyerang Rusia di Keiv, Ukraina, Sabtu, 26 Februari 2022. (AP PHOTO/MIKHAIL PALINCHAK via kompas)

Baca juga: Zelensky Undang Warga Negara Asing untuk Ikut Berperang Lawan Rusia

"Itu adalah arogansi dan standar ganda," bunyi pernyataan itu.

Sebagaimana diketahui, Rusia melancarkan serangannya di Ukraina pada 24 Februari, mengklaim bahwa itu adalah satu-satunya pilihan yang tersisa untuk menghindari ancaman NATO dari wilayah Ukraina.

Presiden Vladimir Putin mengatakan tujuannya adalah demiliterisasi dan "denazifikasi" Ukraina, tetapi Kiev menyatakan serangan itu tidak dapat dibenarkan dan tidak beralasan.

Tentara Ukraina berjalan di kota kecil Severodonetsk, Wilayah Donetsk pada 27 Februari 2022.
Tentara Ukraina berjalan di kota kecil Severodonetsk, Wilayah Donetsk pada 27 Februari 2022. (Anatolii STEPANOV / AFP)

Dorongan Moskow ke Ukraina memicu protes langsung di Barat dan memicu serentetan sanksi baru yang dirancang untuk melumpuhkan ekonomi Rusia dan secara langsung menargetkan Putin dan pejabat tinggi Rusia lainnya.

China, sekutu terdekat Korea Utara, juga menuding Washington dan sekutunya dalam beberapa hari terakhir, menuduh mereka "membesar-besarkan" situasi dan "menuangkan minyak ke api" di Ukraina.

Tank militer Rusia
Tank militer Rusia (TASS)

Beijing telah mengutuk sanksi terhadap Rusia sebagai solusi yang tidak efektif dan meminta Barat untuk mengatasi masalah keamanan "sah" Moskow di wilayah tersebut.

China juga mencabut pembatasan impor atas pengiriman gandum Rusia yang bisa menjadi penyelamat ekonomi Rusia dalam menghadapi sanksi Barat. (*/RT)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved