Perang Rusia Ukraina
Korea Utara Sebut Standar Ganda AS Sebagai Biang Konflik Rusia dan Ukraina
Korea Utara menuduh AS secara tidak adil mencampuri urusan dalam negeri negara lain tanpa memperhatikan perdamaian dan stabilitas
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUNJOGJA.COM - Korea Utara mengeluarkan pernyataan resmi terkait konflik Rusia dan Ukraina. Kementerian Luar Negeri Korea Utara menyebut bahwa standar ganda Amerika Serikat adalah biang konflik yang terjadi antara Rusia dan Ukraina.
“Akar penyebab krisis Ukraina juga terletak pada sikap sewenang-wenang dan kesewenang-wenangan AS,” demikian dalam sebuah komentar yang diposting ke situs web Kementerian Luar Negeri Korea Utara pada hari Sabtu berbunyi.
Pernyataan itu berpendapat bahwa Washington telah mengejar supremasi militer dengan mengabaikan permintaan sah Rusia untuk keamanannya.
Ia menuduh AS secara tidak adil mencampuri urusan dalam negeri negara lain tanpa memperhatikan perdamaian dan stabilitas dan mengabaikan langkah-langkah pertahanan diri yang diambil oleh negara lain, termasuk Rusia.
Baca juga: Zelensky Undang Warga Negara Asing untuk Ikut Berperang Lawan Rusia
"Itu adalah arogansi dan standar ganda," bunyi pernyataan itu.
Sebagaimana diketahui, Rusia melancarkan serangannya di Ukraina pada 24 Februari, mengklaim bahwa itu adalah satu-satunya pilihan yang tersisa untuk menghindari ancaman NATO dari wilayah Ukraina.
Presiden Vladimir Putin mengatakan tujuannya adalah demiliterisasi dan "denazifikasi" Ukraina, tetapi Kiev menyatakan serangan itu tidak dapat dibenarkan dan tidak beralasan.
Dorongan Moskow ke Ukraina memicu protes langsung di Barat dan memicu serentetan sanksi baru yang dirancang untuk melumpuhkan ekonomi Rusia dan secara langsung menargetkan Putin dan pejabat tinggi Rusia lainnya.
China, sekutu terdekat Korea Utara, juga menuding Washington dan sekutunya dalam beberapa hari terakhir, menuduh mereka "membesar-besarkan" situasi dan "menuangkan minyak ke api" di Ukraina.
Beijing telah mengutuk sanksi terhadap Rusia sebagai solusi yang tidak efektif dan meminta Barat untuk mengatasi masalah keamanan "sah" Moskow di wilayah tersebut.
China juga mencabut pembatasan impor atas pengiriman gandum Rusia yang bisa menjadi penyelamat ekonomi Rusia dalam menghadapi sanksi Barat. (*/RT)