Kenapa Rusia Serang Ukraina? Apa yang Vladimir Putin Inginkan?

Vladimir Putin mengklaim, Ukraina modern sepenuhnya diciptakan oleh komunis Rusia dan sekarang menjadi negara boneka, yang dikendalikan oleh Barat.

Tayang:
Penulis: Sigit Widya | Editor: Sigit Widya
AFP
Warga Ukraina di tengah reruntuhan gedung yang hancur oleh rudal Rusia. 

TRIBUNJOGJA.COM - Lewat udara, darat, dan laut, Rusia melancarkan serangan dahsyat ke Ukraina, negara demokrasi Eropa berpenduduk 44 juta orang. Lantas, kenapa Rusia menyerang Ukraina?

Semua berawal ketika Presiden Rusia, Vladimir Putin, membatalkan kesepakatan damai, mengirim pasukan melintasi perbatasan di utara, timur, dan selatan Ukraina. Apa yang Vladimir Putin inginkan?

Dengan kenaikan jumlah korban tewas, Vladimir Putin dituduh merusak perdamaian di Eropa. Apa yang terjadi selanjutnya berpotensi membahayakan seluruh struktur keamanan benua. Dunia tak diam.

Pasukan Rusia mendekati ibu kota Ukraina, Kiev, beberapa hari setelah Vladimir Putin memerintahkan invasi besar-besaran dari utara, timur, dan selatan. Tentara Rusia tanpa ampun menyerang wilayah Kiev.

Dalam pidato pada 24 Februari 2022, Vladimir Putin menyatakan bahwa Rusia tidak bisa merasa "aman, berkembang, dan eksis". Sebab, ia mengklaim, ada ancaman konstan dari Ukraina modern.

Bandar udara dan markas militer diserang terlebih dahulu oleh tentara Vladimir Putin. Kemudian, tank dan pasukan giliran meluncur ke Ukraina, Krimea yang dicaplok Rusia, dan sekutu Belarusia.

Seorang wanita terluka, berdiri di luar sebuah rumah sakit setelah penyerangan kota Chuguiv di Ukraina timur pada 24 Februari 2022.
Seorang wanita terluka, berdiri di luar sebuah rumah sakit setelah penyerangan kota Chuguiv di Ukraina timur pada 24 Februari 2022. (Aris Messinis/AFP)

Baca juga: Pesawat Kargo Terbesar di Dunia Antonov-225 Milik Ukraina Dihancurkan Militer Rusia

Banyak argumen Vladimir Putin yang dicap tidak rasional. Ia mengklaim, aksi tersebut untuk melindungi orang-orang yang menjadi sasaran intimidasi dan genosida, bertujuan "demiliterisasi dan de-Nazifikasi" Ukraina.

Padahal, tidak ada genosida di Ukraina. Ukraina adalah demokrasi yang hidup, dipimpin oleh seorang presiden beragama Yahudi. "Bagaimana saya bisa menjadi seorang Nazi?" kata Volodymyr Zelenskyy, Presiden Ukraina.

Menurut laporan BBC, seperti dikutip Tribunjogja.com, Senin (28/2/2022), Vladimir Putin sering menuduh Ukraina diambil alih oleh para ekstremis sejak presiden pro-Rusia, Viktor Yanukovych, digulingkan pada 2014 lalu.

Rusia lalu membalas dengan merebut wilayah selatan Krimea sehingga memicu pemberontakan di timur, mendukung separatis yang telah memerangi pasukan Ukraina dalam insiden yang merenggut 14.000 nyawa.

Akhir 2021, Rusia mulai mengerahkan sejumlah besar pasukan di dekat perbatasan Ukraina meski berulang kali menyangkal akan menyerang. Tak lama kemudian, Vladimir Putin membatalkan kesepakatan damai 2015.

Rusia telah lama menolak langkah Ukraina menuju Uni Eropa dan aliansi militer defensif Barat, NATO. Vladimir Putin menuduh NATO telah mengancam "masa depan bersejarah kita sebagai sebuah bangsa".

Gambar satelit menunjukkan penyebaran helikopter, kelompok pertempuran, dan pasukan di Valuyki, Rusia, Minggu (20/2/2022).
Gambar satelit menunjukkan penyebaran helikopter, kelompok pertempuran, dan pasukan di Valuyki, Rusia, Minggu (20/2/2022). (Maxar Technologies/Handout via REUTERS via Kompas.com)

Baca juga: Perang Ukrania-Rusia: Rusia Evakuasi Warganya dari Negara-negera Eropa

Sekarang, Rusia berusaha untuk menggulingkan pemerintah Ukraina yang terpilih secara demokratis. Tujuannya, berdasarkan pernyataan Vladimir Putin, agar Ukraina terbebas dari penindasan dan "dibersihkan dari Nazi".

Volodymyr Zelenskyy pun sudah mendapat peringatan sebagai target nomor satu Rusia. Target berikutnya adalah keluarga Presiden Ukraina tersebut. "Musuh telah menetapkan saya," demikian beber Volodymyr Zelenskyy.

Masih menurut laporan BBC, narasi palsu tentang Ukraina yang direbut oleh fasis pada 2014 telah diputar secara rutin di TV yang dikendalikan oleh Kremlin. Vladimir Putin akan membawa persoalan itu ke pengadilan.

Kendati demikian, apa rencana sebenarnya Rusia untuk Ukraina belum diketahui. Januari 2022, Inggris sempat menuduh Rusia merencanakan niat untuk memasang "boneka" pro-Moskow di pemerintah Ukraina.

Akan tetapi, klaim itu buru-buru disanggah oleh Rusia dan disebut sebagai omong kosong. Di lain sisi, laporan intelijen yang belum terkonfirmasi menyatakan bahwa Rusia bakal membagi Ukraina menjadi dua.

Laporan mengungkap, beberapa hari-hari sebelum invasi Rusia, kala 200 ribu tentara sudah berada di dekat perbatasan Ukraina, fokus prajurit Vladimir Putin adalah di wilayah timur Luhansk dan Donetsk.

Tentara Ukraina berjalan di kota kecil Severodonetsk, Wilayah Donetsk, pada 27 Februari 2022.
Tentara Ukraina berjalan di kota kecil Severodonetsk, Wilayah Donetsk, pada 27 Februari 2022. (Anatolii STEPANOV/AFP)

Baca juga: Ukraina Minta Dikirimi Paket Militer, Uni Eropa Kirim Pesawat Sukhoi?

Dengan mengakui wilayah separatis yang dikendalikan oleh proksi Rusia sebagai kawasan independen, Vladimir Putin mengatakan kepada dunia bahwa area tersebut bukan lagi menjadi bagian dari Ukraina.

Kemudian, Vladimir Putin ingin dunia mendukung klaim Rusia atas lebih banyak wilayah Ukraina. Lambat laun, tidak hanya sepertiga wilayah Luhansk dan Donetsk, Rusia berencana untuk mengambil kawasan tersisa.

Di sinilah saat-saat menakutkan bagi rakyat Ukraina dan mengerikan bagi warga di seluruh benua. Mereka menyaksikan kekuatan besar menyerang tetangga Eropa untuk kali pertama sejak Perang Dunia Kedua.

Ratusan orang, baik sipil maupun militer, telah tewas dalam apa yang disebut Jerman sebagai "perang Putin". Bagi para pemimpin Eropa, invasi Rusia ke Ukraina telah membawa ke momen "tergelap" sejak 1940-an.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, telah berbicara tentang titik balik dalam sejarah Eropa, sedangkan Olaf Scholz selaku Kanselir Jerman memperingatkan bahwa Vladimir Putin menginginkan kerajaan Rusia.

NATO telah menjelaskan bahwa tidak ada rencana untuk mengirim pasukan tempur ke Ukraina. Sejauh ini, negara-negara anggota telah mengirim senjata dan mendirikan rumah sakit lapangan di negara tersebut.

Anggota sipil dari unit pertahanan teritorial memasang senjata untuk mengusir penyerang Rusia di Keiv, Ukraina, 26 Februari 2022.
Anggota sipil dari unit pertahanan teritorial memasang senjata untuk mengusir penyerang Rusia di Keiv, Ukraina, 26 Februari 2022. (AP PHOTO/MIKHAIL PALINCHAK via kompas)

Baca juga: Korea Utara Sebut Standar Ganda AS Sebagai Biang Konflik Rusia dan Ukraina

Vladimir Putin tidak hanya menuntut supaya Ukraina tidak pernah bergabung dengan NATO. Rusia ingin NATO menghapus pasukan dan infrastruktur militer dari negara-negara anggota yang bergabung sejak 1997.

Tahun lalu, Vladimir Putin menulis artikel panjang yang menggambarkan Rusia dan Ukraina sebagai "satu bangsa". Ia enggambarkan runtuhnya Uni Soviet pada Desember 1991 sebagai "disintegrasi Rusia yang bersejarah."

Seperti dilaporkan oleh BBC maupun Reuters, Vladimir Putin mengklaim bahwa Ukraina modern sepenuhnya diciptakan oleh komunis Rusia dan sekarang menjadi negara boneka, yang dikendalikan oleh Barat.

Vladimir Putin menekan Ukraina agar tidak menandatangani perjanjian asosiasi dengan Uni Eropa pada 2013, yang memicu protes dan penggulingan presiden pro-Kremlin. Vladimir Putin merasa tidak terima dengan itu.

Di mata Vladimir Putin, Barat berjanji pada 1990 bahwa NATO tidak akan memperluas satu inci pun ke timur. Faktanya, Vladimir Putin menyebut, NATO abai alias tetap melakukan ekspansi ke wilayah timur.

Akan tetapi, hal tersebut terjadi sebelum Uni Soviet runtuh. Jadi, janji yang dibuat kepada Presiden Soviet saat itu, Mikhail Gorbachev, hanya mengacu kepada Jerman Timur dalam konteks Jerman yang bersatu kembali.

Kala berita ini tayang pada Senin (28/2/2022) malam WIB, perundingan delegasi Rusia dan Ukraina sedang berlangsung di Belarusia. Lewat perungingan itu, kedua pihak ingin mengakhiri konflik bersenjata. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved