Obyek Wisata

Menelusuri Sejarah Kampung Andong di Banguntapan, Dikenal Sebagai Penghasil Kuda Berkualitas

Salah satu ikon pariwisata di Yogyakarta adalah andong. Kita dapat dengan mudah menemukan andong di Malioboro.

Penulis: Santo Ari | Editor: Mona Kriesdinar
Tribun Jogja/ Santo Ari
KAMPUNG ANDONG - Suhardiman bersama kudanya di kampung andong, Pedukuhan Nglaren, Potorono, Banguntapan, Bantul, Jumat (18/2/2022). 

Tribunjogja.com Bantul - Salah satu ikon pariwisata di Yogyakarta adalah andong. Kita dapat dengan mudah menemukan andong di Malioboro. Tapi tahukah Anda dari mana andong-andong ini berasal? Ternyata di Bantul terdapat satu kampung yang dikenal sebagai kampung andong yakni di Kampung Kenalan, Pedukuhan Nglaren, Kalurahan Potorono, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul.

Berkunjung di Kampung Kenalan akan terlihat andong-andong diparkir di depan rumah. Sementara di halaman belakang terdapat kandang kuda. Seorang warga kampung Kenalan dan sekaligus kusir andong yakni Suhardiman (46) mengisahkannya.

Dulu, sekitar tahun 1970-an banyak warga yang memiliki gerobak sapi.

Gerobak sapi itu digunakan untuk mengangkut barang dagangan ke pasar. Seiring berjalannya waktu, warga beralih menggunakan andong dengan tenaga kuda.

"Bapak saya sama orang-orang sini beralih ke andong. Awalnya warga beli 1 sampai 2 andong terus pada ngikut-ngikut, itu tepatnya terjadi sekitar tahun 1970-an," ujarnya saat ditemui pada Jumat (18/2/2022).

Hingga tahun 1980-an warga masih menggunakan andong untuk mengangkut barang ke pasar. Namun, mulai tahun 1990-an andong mulai beralih fungsi sebagai salah satu alat transportasi manusia.

Pergeseran fungsi tersebut karena adanya modernisasi, di mana masyarakat lebih memilih menggunakan angkutan umum untuk mengangkut barang dagangan ke pasar.

“Tahun 1995 andong mulai banyak digunakan sebagai transportasi manusia seperti ke pasar," ucapnya.

Suhardiman menyatakan, saat ini sebagian besar warga di kampungnya bekerja menjadi kusir andong dan pencetak bata merah.

Masih ada sekitar 17 orang yang menekuni profesi sebagai kusir. Masih ada 23 andong di sana, dengan kuda lebih kurang ada 50 ekor.

Suhardiman sendiri memiliki dua ekor kuda.

Karena dikenal dengan kampung andong, banyak warga yang akhirnya mengembangbiakkan kuda dan menjualnya.

Ia pun mengakui bahwa kuda di Kampung Kenalan terkenal mahal karena kualitasnya.

"Jenisnya kuda sandel, itu jenis dari Sumbawa dan di sini dikawinkan dengan pejantan yang dipakai balapan itu. Nah, anakannya itu harganya mahal karena pejantannya kan di tingkat balapan sudah terkenal," ucapnya.

Harganya bervariasi, di mana kuda usia muda mencapai belasan juta rupiah dan untuk yang siap menarik andong mencapai puluhan juta rupiah, berkisar Rp25 juta.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved