Breaking News:

Feature

Kisah Dalang di Klaten Banting Setir Karena Sepi Panggung, Olah Ban Bekas Jadi Kerajinan

Di tangan Panggah Hastanto, ban bekas yang tadinya dibiarkan menjadi barang rongsokan disulap menjadi kerajinan bernilai ekonomis.

Penulis: Almurfi Syofyan | Editor: Mona Kriesdinar
TRIBUN JOGJA / ALMURFI SYOFYAN
MENATA - Panggah Hastanto menata kerajinan ban bekas di rumahnya di Desa Pundungsari, Kecamatan Trucuk, Klaten, Rabu (12/1/2022). 

TRIBUNJOGJA.COM - Di tangan Panggah Hastanto, ban bekas yang tadinya dibiarkan menjadi barang rongsokan disulap menjadi kerajinan bernilai ekonomis. Pria berusia 53 tahun itu mengubah ban bekas menjadi pot bunga, kursi, replika hewan, hingga replika mobil-mobilan. Barang bernilai ekonomis inipun bisa mendulang rupiah.

Panggah, begitu dia karib disapa, sebenarnya berprofesi sebagai seorang seniman. Hampir 40 tahun dia menekuni profesi sebagai seorang dalang. Meski usianya tak lagi muda, namun Panggah memiliki semangat yang tak kalah dari para pemuda.

Ia bercerita jika keahliannyan menyulap ban bekas menjadi kerajinan itu dipelajari secara autodidak.

Panggah baru 2 bulan menekuni usaha itu. Hal ini terjadi karena sepinya job manggung yang ia dapatkan selama pandemi Covid-19 melanda.

Sebagaimana diketahui, dunia seni pertunjukan terpaksa menepi selama pandemi melanda sejak Maret 2020.

Warga Desa Pundungsari, Kecamatan Trucuk, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah itu mengatakan ide membuat kerajinan dari ban bekas bermula saat ia melihat ban bekas banyak terbuang di sekitar rumahnya.

"Daripada itu menjadi sarang nyamuk dan bikin penyakit, saya iseng membuatnya jadi kerajinan pot bunga," ujar Panggah saat berbincang dengan Tribun Jogja di rumahnya, Rabu (11/1/2022).

Panggah membuat pot bunga dan beragam jenis kerajinan lainnya itu hanya dengan bermodalkan peralatan sederhana, seperti pisau pemotong kecil, palu, gergaji, dan lain sebagainya. Meski karyanya baru seumur jagung, namun kerajinan ban bekas itu laris manis di pasaran.

Harga

Panggah mencatat, pembeli kerajinan ban bekas ada juga yang dari Jakarta dan paling banyak warga Klaten. Terkait harga, Panggah membanderol Rp50 ribu hingga Rp150 ribu saja per karya.

"Harganya terjangkau karena saya masih baru jadi kalau ada yang beli saya lepas saja," ucapnya.

Dalam sebulan, omzet yang bisa dikumpulkan Panggah bisa mencapai Rp 1 juta. Uang itu bisa membantu perekonomian keluarga selama pandemi yang belum diketahui ujungnya ini melanda.

Menangani pasokan ban bekas, Panggah mengaku saat ini tidak terlalu mendapat kendala, sebab ban bekas banyak ditemukan di daerah Klaten. Ia membeli ban bekas dengan harga Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu per buahnya.

"Untuk mengisi waktu dan kemudian menghasilkan. Saya dari dulu memang suka membuat prakarya secara autodidak," imbuhnya. (Almurfi Syofyan)

Baca Tribun Jogja edisi Jumat 14 Januari 2022 Halaman 01.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved