Berita Kulon Progo Hari Ini

Marak Perilaku Seksual Menyimpang Dikhawatirkan Berdampak pada Penurunan Stunting

Perilaku seksual menyimpang yang marak terjadi belakangan terakhir ini dikhawatirkan akan berdampak terhadap upaya penurunan angka stunting.

Penulis: Sri Cahyani Putri | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Sri Cahyani Putri Purwaningsih
Kepala BKKBN RI, Hasto Wardoyo saat ditemui awak media di SMAN 1 Wates, Sabtu (8/1/2022) kemarin. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Sri Cahyani Putri Purwaningsih

TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Perilaku seksual menyimpang yang marak terjadi belakangan terakhir ini dikhawatirkan akan berdampak terhadap upaya penurunan angka stunting

Terlebih permasalahan stunting di Indonesia ditargetkan turun lagi dari 24,4 persen menjadi 14 persen. 

Kepala BKKBN RI, Hasto Wardoyo mengatakan perilaku seksual menyimpang dapat memperingaruhi psikologis seseorang.

Apalagi membuat seseorang mengalami kehamilan yang tidak diinginkan.

Baca juga: Angka Stunting di Kulon Progo Turun Jadi 10,35 Persen pada 2021, Perlu Sinergitas OPD dan Masyarakat

"Jangankan mikirkan bayinya. Mikirkan dirinya sendiri yang stres akibat pemerkosaan dan penindasan sudah luar biasa," kata Hasto saat ditemui usai peletakan batu pertama di SMAN 1 Wates, Sabtu (8/1/2022) kemarin. 

Pihaknya juga mengaku prihatin terhadap beberapa kejadian seksual yang dilakukan oleh orang dewasa yang menghamili remaja atau anak di bawah umur entah dimana saja atau siapa saja orangnya. 

Dikarenakan perbuatan tersebut sangat kontraproduktif terhadap kualitas sumber daya manusia (SDM). 

Sementara keprihatinan Presiden RI, Joko Widodo bagaimana kualitas SDM harus lebih baik. 

Apalagi perilaku seksual menyimpang itu terjadi di lembaga pendidikan keagamaan yang seharusnya turut berkontribusi dalam membangun karakter bangsa. 

Baca juga: Santriwati di Kulon Progo Diduga Jadi Korban Pelecehan Seksual Pengasuh Ponpes

Dengan adanya kejadian tersebut, pihaknya menyarankan kepada organisasi perangkat daerah (OPD) terkait agar ada keterbukaan pengawasan di dalam lingkungan pendidikan. 

"Apalagi pendidikan yang didominasi oleh satu orang yang sangat diikuti. Kalau tidak disertai kontrol yang baik akan menjadi repot," ucapnya. 

Dikatakan Hasto, gangguan jiwa emosional terhadap remaja mengalami peningkatan yang signifikan. 

Sepuluh tahun yang lalu gangguan jiwa emosional terhadap remaja sekitar 6,1 persen. 

Namun sekarang ini mencapai 9,8 persen. ( Tribunjogja.com

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved