Berita DI Yogyakarta Hari Ini

Indeks Kebahagiaan di DI Yogyakarta Turun Drastis, Pakar Ekonomi UAJY: Masyarakat Tidak Nyaman 

Indeks Kebahagiaan DI Yogyakarta turun dari peringkat pertama menjadi peringkat 22. Hal ini terlihat dalam laporan Indeks Kebahagiaan

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Kurniatul Hidayah
mui.or.id
ILUSTRASI 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ardhike Indah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Indeks Kebahagiaan DI Yogyakarta turun dari peringkat pertama menjadi peringkat 22.

Hal ini terlihat dalam laporan Indeks Kebahagiaan 2021 yang dirilis Badan Pusat Statistika (BPS) baru-baru ini.

Survey itu dilakukan pada 1 Juli sampai 27 Agustus 2021 terhadap 75.000 rumah tangga yang dipilih secara acak dengan pendekatan kepuasan hidup, afeksi (perasaan), dan eudaimonia (makna hidup).

Baca juga: KEWALAHAN, TPS 3R Kecamatan Borobudur Magelang Naikkan Uang Iuran Sampah

Menanggapi hal tersebut, Dosen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Dr Y Sri Susilo mengatakan pandemi Covid-19 menjadi salah satu alasan kenapa Indeks Kebahagiaan di DI Yogyakarta menurun.

“Dugaan saya, memang di tahun 2021, kita ini lagi terkena pandemi ya. Jadi, pasti itu sedikit banyak mempengaruhi masyarakat. Banyak dari mereka yang merasa tidak nyaman dengan keadaan,” paparnya ketika dihubungi Tribun Jogja, Kamis (6/1/2022).

Dia mengatakan, ada kondisi lain yang membuat itu turun, beberapa di antaranya adalah daya beli dan jual petani naik dan turun hingga harga komoditas ayam anjlok.

“Bisa juga dipengaruhi oleh fenomena klitih. Itu terjadi di masa pandemi ya, meski di waktu sebelum pandemi juga terjadi,” tuturnya.

Dugaan lain, responden yang mengikuti survei adalah mereka yang betul-betul terdampak pandemi Covid-19 secara langsung, khususnya di bidang perekonomian.

Menurutnya, responden bakal melihat keadaan sebelum tanggal survei dilakukan dan di waktu-waktu itu, keadaan sedang tidak stabil.

“Misalnya, tukang parkir terdampak, hotel juga, UMKM yang ada di dekat kampus terdampak. Ini memberikan rasa tidak nyaman kepada mereka dan berdampak pada hasil surveinya,” papar Susilo.

Baca juga: Pemkab Bantul Anggarkan Program Padat Karya senilai Rp 30,2 Miliar di Tahun 2022

Meski begitu, Susilo berharap masyarakat tidak perlu terlalu risau dengan hasil BPS karena memang itu sudah tugas dari lembaga.

Ia juga setuju dengan pernyataan Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Kadarmanta Baskara Aji yang sebelumnya telah mengatakan pihaknya akan mengevaluasi apa yang menjadi faktor indeks menurun.

“Saya setuju dengan pernyataan Pak Sekda DIY. Yang penting kita berbenah agar tiga tahun ke depan, dimana survei ini dilakukan, bisa lebih baik,” tukasnya. (Ard)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved