Nasib Sumur Resapan untuk Antisipasi Banjir di Wilayah Sleman
Intensitas hujan di akhir tahun atau bulan Desember ini tinggi. Sejumlah saluran irigasi bahkan tidak cukup mampu menampung debit air yang melimpah
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Iwan Al Khasni
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Intensitas hujan di akhir tahun atau Desember ini tinggi. Sejumlah saluran irigasi bahkan tidak cukup mampu menampung debit air yang melimpah. Akhirnya terjadi banjir genangan.
Beberapa ruas jalan di Sleman, juga tidak luput dari banjir genangan apabila hujan lebat mengguyur dengan intensitas cukup lama.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Epiphana Kristiyani mengatakan, pihaknya telah berupaya mengantisipasi terjadinya banjir genangan ketika hujan lebat dengan membuat sumur resapan.
Terutama di kawasan padat penduduk yang banyak bangunan tertutup. Namun, pembuatan sumur resapan semestinya harus dibarengi dengan pemeliharaan dan edukasi kepada masyarakat. Tidak bisa didiamkan begitu saja.
"Kalau hujan, air yang masuk sumur resapan itu kan bawah tanah. Masuk ke lubang-lubang. Nanti kalau tidak dipelihara, lubang-lubang di sumur resapan itu akan tertutup tanah. Akhirnya jadi padat lagi, air enggak bisa meresap lagi," kata dia, Selasa (21/12/2021).
Menurutnya, sumur resapan sejak tahun 2016 sudah dibangun di beberapa titik.
Di antaranya, Kapanewon Depok, depan Ambarukmo plaza, Condongcatur, kemudian di Kalasan di Jalan Jogja-Solo.
Ke depan, pihaknya mengaku akan berupaya mengedukasi masyarakat supaya memelihara sumur resapan yang telah dibangun.
Selain itu, memberikan pemahaman agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan ke sungai maupun saluran air. Sebab, itu dapat membuat penyumbatan yang akhirnya berpotensi menimbulkan luapan.
Pihaknya mengaku akan memonitor titik mana saja yang kerap terjadi banjir genangan. Hal ini untuk melihat secara langsung kondisi drainase, bangunan terbuka dan tertutup, serta memantau apakah sudah ada sumur resapan atau belum di seputar lokasi.
“Bagaimana kita mengatasi (banjir genangan ini) supaya tidak semakin menjadi buruk," ujar Epiphana.
Selain sumur resapan, menghadapi musim penghujan, Dinas Lingkungan Hidup Sleman juga rutin berkeliling dan menerima aduan dari masyarakat untuk memangkas pohon yang rimbun.
Ranting pohon yang dinilai terlalu rimbun dan tua segera dilakukan pemangkasan, supaya ketika terkena hujan dan angin kencang tidak tumbang. Sehingga dapat meminimalisasi potensi bahaya.
Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana mengatakan, salah satu penyebab banjir yakni karena intensitas dan curah hujan yang tinggi, khususnya bagi masyarakat dataran rendah. Selain itu, kapasitas sungai yang kecil juga dapat menyebabkan banjir.
Jika intensitas hujan tinggi maka volume air yang mengalir juga tinggi. Apabila kapasitas sungai tidak memadai karena terlalu kecil, hal ini akan membuat air tidak mempunyai tempat dan akhirnya meluap hingga banjir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Sumur-Resapan-Perlu-Dirawat-Untuk-Antisipasi-Potensi-Banjir.jpg)