Jelang Nataru, Disperindag Sleman Pastikan Stok Bahan Pokok Aman
Ketersediaan bahan pokok (bapok) di Bumi Sembada menjelang Natal dan tahun baru (Nataru) 2022 dipastikan aman. Dinas Perindustrian dan Perdagangan
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Ketersediaan bahan pokok (bapok) di Bumi Sembada menjelang Natal dan tahun baru (Nataru) 2022 dipastikan aman.
Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman telah melakukan pemantauan di sejumlah pasar tradisional dan distributor.
Selain itu, pemantauan bapok juga dilakukan ditingkat petani bekerjasama Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Sleman.
Baca juga: Tanggapan Komisi C DPRD DIY Soal Pembongkaran 25 Toko di Jalan Pasar Kembang Yogyakarta
"Bahan pokok aman. Beras aman bahkan cadangannya hingga 6 bulan kedepan masih aman," kata Kepala Bidang Perdagangan, Disperindag Kabupaten Sleman Nia Astuti, Rabu (8/12/2021).
Nia mengatakan, bahan pokok aman terutama beras. Sebab Sleman menjadi lumbung pangan di Daerah Istimewa Yogyakarta.
Hanya saja, menjelang nataru, ada beberapa komoditas terpantau mengalami kenaikan.
Di antaranya, cabai rawit merah dan rawit hijau. Kedua komoditas ini harganya terus melambung sejak akhir November lalu.
Menurutnya, pantauan hari Rabu (8/12/2021), harga cabai rawit merah di Kabupaten Sleman rata-rata menyentuh Rp 60 ribu/kg.
Harga eceran tertinggi (HET) menyentuh Rp 65 ribu/kg.
Sementara harga di pasar grosir, seperti Pasar Prambanan relatif lebih murah di kisaran Rp 58 ribu rupiah per kilogram.
Harga melambung tinggi juga terjadi pada rawit hijau.
Harganya di luar kewajaran bahkan menyentuh Rp 59 ribu/kg. Lebih tinggi dibanding rawit merah.
"Padahal harga cabai rawit hijau ini biasanya Rp 25 - Rp 30 ribu/ kg," terangnya.
Kenaikan tinggi ini di luar dugaan.
Kenaikan harga juga terjadi pada minyak goreng.
Terutama minyak goreng kemasan. Harganya kini menyentuh Rp 19.000/liter.
Nia menduga kenaikan harga minyak goreng ini dipicu oleh kenaikan crude palm oil (CPO).
Kemudian, banyak produk sawit yang saat ini dialihkan untuk Biodesel sehingga ketersediaan minyak goreng di pasaran berkurang.
Baca juga: Dirut PT PSS Beberkan Alasan Dejan Antonic Masih Dipertahankan di PSS Sleman
Harga saat ini cukup memberatkan masyarakat. Sebab, harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng sebenarnya berada di angka Rp 13.000 per liter.
Pihaknya mengaku cukup khawatir dengan kenaikan ini.
"Tapi bagaimana pun, ini tidak bisa dikendalikan oleh level daerah. Semua daerah mengalami," kata dia.
Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo berpesan dengan adanya kenaikan di sejumlah komoditas ini, agar masyarakat tidak panic buying.
Di samping itu, Ia meminta masyarakat tidak memiliki niatan menimbun.
"Masyarakat belanja yang bijak. Jangan ada panic buying apalagi sampai ada aksi penimbunan," kata Kustini.
Pihaknya memastikan stok kebutuhan bahan pokok di Kabupaten Sleman aman, menjelang Natal dan tahun baru.(rif)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/berita-sleman_20180731_185753.jpg)