Awal Kisah Asmara Pemuda Asal Bantul hingga Rela Jual Daun Pintu Rumah Demi Pacar

terrlanjur Cinta. Begitu pengakuan DRS pemuda asal Pundong, Kabupaten Bantul ketika ditanya alasan menjual perabotan rumah orangtuanya.

Penulis: Santo Ari | Editor: Iwan Al Khasni
Dok Polres Bantul
Pelaku saat ditanya polisi di Polres Bantul 

Tribunjogja.com Bantul -- Terlanjur Cinta. Begitu pengakuan DRS pemuda asal Pundong, Kabupaten Bantul ketika ditanya alasan menjual perabotan rumah orangtuanya.

Hasil jual perabotan rumah hingga nyaris jual genting itu demi mencukupi kebutuhan pribadi dan membelikan barang-barang untuk pacarnya.

DRS awalnya adalah pengemudi ojek online.

Suatu saat dia mendapatkan orderan dari seputaran Terminal Giwangan Yogyakarta.

Ya orderan itu datang dari seorang perempuan.

Singkat cerita, keduanya saling kenal hingga akhirnya menjalin hubungan asmara.

Sebenarnya hubungan asmara belum lama, sebab DRS mengaku baru kenal lebih kurang satu bulan.

Namun semenjak itu, DRS mulai jor-joran menuruti keinginan pacarnya.

Sebab penghasilannya dari ojek online minim, DRS akhirnya mulai menjual perabotan rumah milik orangtuanya.

Mulai dari meja, kursi, daun pintu hingga nyaris menjual genting rumah yang sebagian sudah diturunkan dari atap.

Kondisi rumah setelah seluruh perabotan rumah tangga dijual oleh tersangka
Kondisi rumah setelah seluruh perabotan rumah tangga dijual oleh tersangka (istimewa)

DRS mengaku sudah sangat cinta kepada pacarnya.

"Sistemnya memberi langsung, kadang berupa makanan, kadang tas dan kadang baju. Saya lakukan karena cinta," ujarnya.

Bahkan masih dalam posisi keadaan terborgol dan memakai baju tahanan ia menyampaikan pesan kepada pacarnya.

"Jaga kesehatan dan jangan lupa makan," ucapnya.

Kasus ini terungkap pada Minggu (7/11/2021).

DRS berniat menjual genting rumahnya.

Genting rumahnya sudah diangkut ke dalam truk untuk dijual.

Beruntung warga sekitar sempat menghentikan dan melaporkan perbuatan DRS ke ibunya.

Melihat isi rumahnya sudah dalam kondisi kosong, termasuk genting rumah sudah diturunkan, Paliyem sontak marah dan melaporkan anaknya ke Polsek Pundong.

"Orang tuanya juga sudah bilang bahwa dirinya, Pak RT, tetangga, sudah sering menasehati, tapi tetap tidak bisa."

"Ibunya pun minta dilanjutkan (proses hukum)," kata Kanit Reskrim Polsek Pundong Ipda Heru Pracoyo.

Heru menyatakan bahwa pada hari minggu itu pihaknya sempat memberikan waktu untuk mediasi.

Namun karena kesabaran sang Ibu sudah habis, DRS tetap dilaporkan ke Polsek Pundong.

"Saat itu kita kasih waktu untuk mediasi, namun paginya tetap melaporkan. Dan kita dari polsek tetap melayani laporan tersebut," tambahnya.

Dari pengakuan tersangka, perabotan rumah tangga telah dijual dengan harga yang jauh dari pasaran.

Misalnya lemari dan empat kursi panjang dijual seharga Rp 500 ribu.

Sementara dua daun pintu, meja kursi dijual seharga Rp 700 ribu.

"Harganya tidak sesuai, yang penting dia dapat uang. Uangnya itu digunakan untuk foya-foya bersama teman perempuannya," bebernya.

"Padahal kalau satu pintu saja, kalau normal dijual bisa Rp 2,5 juta. Sementara total kerugian kalau dihitung kurang lebih Rp 24 juta," imbuhnya. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved