Gelar Pekan Budaya Difabel Ketiga, Disbud DIY Suguhkan Berbagai Kegiatan Menarik
Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta akan melaksanakan Pekan Budaya Difabel (PBD). Pekan Budaya Difabel tersebut
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Kurniatul Hidayah
Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta akan melaksanakan Pekan Budaya Difabel (PBD).
Pekan Budaya Difabel tersebut akan dilaksanakan pada 28 November hingga 3 Desember 2021.
Kasi Seni Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, Purwiati mengatakan Pekan Budaya Difabel sebelumnya dilaksankaan dengan Jambore Difabel yang dilaksanakan dari 2016 hingga 2018.
Namun karena antusiasme masyarakat yang tinggi, Jambore Difabel kemudian berganti menjadi Pekan Budaya Difabel pada 2019 hingga saat ini.
Baca juga: Tegakkan Perda di Tengah Pandemi, Satpol PP DIY Susun Skala Prioritas
"Jadi ini adalah Pekan Budaya Difabel yang ketiga sejak 2019. Untuk tema pada Pekan Bduaya Difabel ini adalah Gemati. Gemati itu digegem kanthi ati dan digegem ngati-ngati. Dengan tema seperti itu harapan kami mensinergikan kebutuhan difabel dengan kegiatan yang ada di Dinas Kebudayaan," katanya dalam jumpa pers di Dinas Kebudayaan, Selasa (23/11/2021).
Ia mengungkapkan ada berbagai kegiatan dalam PBD tersebut.
Mulai dari Gemati Pitutur berupa workshop, Gemati Micara berupa talkshow, Gemati Hasta Karya berupa pameran, Gemati Krida Budaya berupa pentas, Gemati Pustaka berupa peluncuran buku.
"Di tengah pandemi Covid-19 ini maka Pekan Budaya Difabel akan dilaksanakan secara hybrid, ada daring dan luring terbatas," ungkapnya.
Sementara itu, Ketua Pekan Budaya Difabel 2021, Broto Wijayanto menerangkan fokus utama PBD kali ini adalah pendamping difabel.
Sebab pendamping itulah yang berdampingan langsung dengan para difabel dan melayani dengan sepenuh hati.
Baca juga: Disparpora Kabupaten Magelang Khawatirkan Fenomena Kejahatan Jalanan Bisa Coreng Citra Wisata
Salah satu kegiatan di PBD didedikasikan untuk pendamping difabel, yaitu Gemati Pitutur.
Ada banyak workshop yang akan diberikan, tentu saja disesuaikabn dengan kondisi di kabuaten atau kota masing-masing.
"Kami tidak menuntut kabupaten satu dan lainnya sama. Karena kesulitan pendamping di kabupaten satu dengan lainnya berbeda. Jadi kami berkomunikasi dengan para pendamping ini. Ada yang kemudian minta workshop ecoprint, budidaya lele dengan ember, pengasuhan difabel, dan lain-lain," terangnya.
Dalam PBD juga akan menampilakan ragam karya difabel. Pameran tersebut akan dilaksankan pada 29 November hingga 3 Desember di Kafe Susu Tuli (Kasuli) Langenarjan Yogyakarta.
Tak hanya itu, PBD juga akan ditutup dengan operet dengan judul Punokawanita.
Operet tersebut mengisahkan tentang sosok perempuan yang gemati, merawat generasi muda sehingga menjadi generasi yang berdaya dan luar biasa. (maw)