Monumen PHB AURI Playen Gunungkidul, Saksi Bisu di Masa Perang Kemerdekaan RI
Bangunan berbentuk limasan khas Jawa itu tampak sederhana. Berada di Pedukuhan Banaran, Kalurahan Playen, Playen, Gunungkidul, rumah tersebut kini
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Kurniatul Hidayah
"Siarannya diterima Sumatra Barat kemudian ke Aceh, sampai akhirnya tersiar secara internasional," kata Soeroso.
Berkat informasi itulah, posisi Indonesia diketahui masih kuat.
Saat itu, Belanda berusaha memberitahu dunia bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada dan kembali dikuasai mereka.
Puncaknya, saat sidang PBB tanggal 7 Maret 1949, banyak perwakilan negara yang akhirnya mengakui kemerdekaan RI. Kabar ini pun disambut gegap gempita oleh rakyat Indonesia.
Baca juga: UPDATE Penularan Klaster Takziah di Bantul, 11 Warga di Kapanewon Sanden Positif Covid-19
Menurut Soeroso, rumah tersebut kini dihibahkan ke AURI sebagai museum dan monumen peringatan.
Nyaris tidak ada yang berubah dari bangunan sederhana tersebut, hanya ditambah sejumlah keterangan.
"Setelah pensiun, saya memutuskan kembali, membangun rumah dan tinggal dekat sini," kata pria yang lahir di tahun 1949 ini.
Soeroso merupakan pensiunan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan DKI Jakarta dan cukup lama berkarir di sana. Masa tuanya pun kini ia habiskan di tanah kelahirannya itu.
Selain Soeroso, cicit Pawirosetomo bernama Sukaryo juga ikut menjaga rumah tersebut sebagai juru pelihara. Menurutnya, monumen tersebut kerap dikunjungi pelajar hingga wisatawan.
"Sekarang agak berkurang, mungkin karena pengaruh pandemi," tuturnya. (alx)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/monumen-phb-auri-di-playen-gunungkidul-121121.jpg)