Breaking News:

Pandemi Covid 19

Jangan Khawatir, Vaksin Covid-19 pada Anak Hanya Timbulkan Efek Samping Minor

Hanya 6,5% dari anak-anak berusia 5-12 tahun yang mengalami demam setelah vaksinasi, dibandingkan dengan 17,2% dari mereka yang berusia di atas 12

Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
Mohammed Hasan | Pixabay
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Vaksinasi covid-19 untuk anak usia 5-11 tahun mulai digulirkan di sejumlah negara. Seiring dengan program tersebut, muncul pula kekhawatiran dari sebagian masyarakat mengenai keamanan dan efek samping jangka panjang dari vaksin tersebut.

Namun, Anda sebenarnya tak perlu khawatir berlebihan lantaran vaksinasi covid-19 hanya memberikan efek samping minor. Sama halnya dengan yang dirasakan oleh orang dewasa.

Salah satunya seperti yang diungkap Wakil presiden senior Penelitian dan Pengembangan Klinis Vaksin Pfizer, Dr. Bill Gruber.

Ia menguraikan data perusahaan obat dari uji coba fase 2 dan 3 pada Pertemuan Komite Penasihat Vaksin dan Produk Biologi Terkait FDA pada 26 Oktober 2021.

Dia menjelaskan efek samping serius hanya memiliki kemungkinan yang sangat kecil. Dan tidak ada kematian selama uji coba fase 2 dan 3 pada anak-anak berusia 5-12 tahun. Ia menambahkan bahwa efek sampingnya mirip dengan yang dialami orang dewasa.

Efek samping yang paling umum pada anak-anak setelah dosis kedua vaksin. Mereka merasa kelelahan dan sakit kepala, dengan 39,4% dan 28% dari anak berusia 5-12 tahun mengalami gejala tersebut. Sementara efek samping pada dosis pertama sangat jarang.

Sementara orang dewasa memiliki prosentasi efek samping 65,6% dan 60,9%.

Data menunjukkan bahwa demam dan kedinginan yang dialami setelah vaksin lebih rendah di antara anak-anak berusia 5-12 tahun daripada di antara anak-anak berusia 12-65 tahun.

Hanya 6,5% dari anak-anak berusia 5-12 tahun yang mengalami demam setelah vaksinasi, dibandingkan dengan 17,2% dari mereka yang berusia di atas 12 tahun. Juga, hanya 9,8% dari mereka yang berusia 5-12 tahun mengalami kedinginan, dibandingkan dengan 40% dari mereka yang berusia di atas 12 tahun.

“Untuk meningkatkan kemungkinan deteksi kejadian miokarditis yang jarang terjadi pada remaja dan dewasa muda, jika terjadi, instruksi khusus diberikan untuk waspada dengan gejala dan tanda miokarditis. Tidak ada anafilaksis, tidak ada miokarditis, dan tidak ada apendisitis yang dilaporkan," katanya kepada Medical News Todays.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved