Curah Hujan Tinggi, Petani di Sleman Diimbau Normalisasi Saluran Irigasi
Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk Kabupaten Sleman kini sudah memasuki awal musim penghujan. Tahun ini, terdeteksi ada fenomena La Nina
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk Kabupaten Sleman kini sudah memasuki awal musim penghujan.
Tahun ini, terdeteksi ada fenomena La Nina yang menyebabkan intensitas curah hujan lebih tinggi.
Menghindari terjadinya sumbatan air yang bisa mengakibatkan genangan di lahan, para petani di Bumi Sembada diimbau untuk melakukan pembersihan pada saluran irigasi.
"Normalisasi saluran air ini penting untuk menghindari penyumbatan dan meminimalisir kerusakan," terang Plt Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Sleman, Suparmono, Sabtu (6/11/2021).
Baca juga: BREAKING NEWS: Semakin Meluas, 69 Orang di Sleman Positif Covid-19 dari Klaster Takziah di Bantul
Di samping normalisasi saluran irigasi, kata Suparmono, petani juga perlu melakukan pemangkasan pohon besar yang ada di sekitar lahan untuk mengurangi risiko kerusakan tanaman akibat tertimpa pohon saat roboh.
Kemudian, apabila terjadi genangan maka segera manfaatkan pompa mesin alat pertanian untuk melakukan penyedotan dan pembuangan air.
Selain itu, di musim penghujan ini, Suparmono juga menganjurkan agar petani sebaiknya menanam benih yang toleran terhadap genangan air dan varietas yang tahan terhadap serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) endemis.
Ia meminta petani meningkatkan kewaspadaan terhadap serangan hama, dengan budidaya tanaman sehat yang mengutamakan pengendalian secara hayati.
Kemudian bagi petani yang menanam cabai, Mantan Camat Cangkringan ini mengimbau agar meninggikan pembuatan bedengan dengan ketinggian sekitar 40-50 cm. Lalu memperlebar jarak tanam.
"Langkah ini untuk menghindari genangan air saat hujan dan mengurangi kelembaban serta serangan penyakit antraknose (panthek)," tutur dia.
Di musim penghujan pengolahan lahan juga perlu diperhatikan. Sebab, curah hujan yang tinggi mengakibatkan terjadinya pencucian unsur hara dalam tanah, sehingga secara alami tanah menjadi masam.
Karenanya, dibutuhkan langkah untuk menyesuaikan PH tanah sesuai kebutuhan tanaman dengan menggunakan unsur kalsium secara tepat.
Baca juga: Banjir Bandang di Kota Batu, Pakar UGM: Ada Gangguan Ekosistem dan Pengaruh Perubahan Iklim
"Harapannya agar tamanan bisa tumbuh dengan lebih baik," kata dia.
Ketua Forum Petani Kalasan, Janu Riyanto mengatakan, menghadapi curah hujan yang tinggi akibat La Nina, petani di Kalasan sejauh ini sudah melakukan sejumlah langkah antisipasi.
Di antaranya, melakukan normalisasi saluran irigasi di selokan Mataram. Kemudian, memilih menanam padi yang dianggap lebih aman terhadap hujan.
Menurutnya, lahan di Kalasan sekitar 1.000 hektare kini telah ditanami Padi.
Meskipun, ada juga petani yang memilih untuk menanam cabai.
Saat curah hujan sedang tinggi, tanaman cabai menurutnya rawan terhadap peningkatan serangan organisme pengganggu tumbuhan seperti jamur fusarium maupun antraknosa.
"Karena itu, membutuhkan perlakuan khusus dan penanganan yang lebih," kata dia. (rif)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/petani-di-margodadi-sleman.jpg)