Kapan Gelombang Ketiga Covid-19 Terjadi? Begini Prediksi Epidemiolog UGM
Kapan Gelombang Ketiga Covid-19 Terjadi? Begini Prediksi Epidemiolog UGM
Penulis: Ardhike Indah | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Prediksi soal gelombang ketiga Covid-19 masih cukup hangat diperbincangkan masyarakat.
Beberapa bulan belakangan, kasus Covid-19 di DI Yogyakarta juga melandai dengan data kematian harian kurang dari 10 orang.
Sampai saat ini, belum ada berita rumah sakit kekurangan tempat tidur atau oksigen lagi.
Ahli Epidemiologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Bayu Satria, mengatakan, kemungkinan adanya gelombang peningkatan kasus Covid-19 ketiga di Indonesia terjadi menjelang libur panjang akhir tahun.
“Memang mungkin terjadi terutama menjelang libur panjang akhir tahun di mana sangat mungkin terjadi mobilitas cukup besar walau mungkin tidak sama besarnya dengan Idul Fitri,” ucapnya, Selasa (19/10/2021).
Dia menambahkan, mobilitas besar itu perlu diantisipasi oleh pemerintah.
Salah satu langkah antisipasi yang bisa dilakukan adalah dengan cara memecah hari libur sehingga masyarakat tidak mengambil libur panjang.
Baca juga: Epidemiolog UGM: PPKM DI Yogyakarta Level 2, Masyarakat Tetap Harus Waspada dengan Covid-19
Baca juga: Pertama Kali Sejak Pemberlakuan PPKM, Gunungkidul Nihil Kasus Baru COVID-19
Selain itu, sejalan dengan penyesuaian level PPKM, menurutnya, pemerintah juga perlu berupaya melakukan evaluasi langkah 3T yang sudah dapat berjalan dan yang belum berjalan ketika terjadi gelombang kedua.
“Serta tetap menyiapkan infrastruktur dan SDM jika sewaktu-waktu terjadi peningkatan kasus seperti sebelumnya,” jelas Bayu.
Lebih lanjut, dia mengungkap, masyarakat juga harus tetap melakukan 5 M dan mau divaksin.
Sebab, kondisi saat ini bisa terjadi jika masyarakat merasa memiliki tanggung jawab terhadap kesehatan satu sama lain.
“Kondisinya hampir sama, di semua daerah. Masih kurang kesadaran masyarakat untuk periksa jika gejala ringan atau habis kontak dengan kasus positif. Tidak jarang masih ditemukan yang menolak diswab saat pelacakan kontak,” imbuhnya.
Menurutnya, jika masyarakat bisa memahami bahwa landainya kasus ini karena protokol kesehatan yang ketat, maka keadaan seperti ini bisa terus terjadi.
Jika tidak, maka risikonya adalah kasus Covid-19 meningkat meski tidak setinggi sebelumnya.
“Jika masyarakat tidak mau mematuhi itu semua ya menjadi risiko mereka juga kalau sampai DIY kembali naik level risikonya dan banyak yang ditutup lagi,” kata Bayu. (Tribunjogja/Ardhike Indah)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/dr-bayu-satria-wiratama-mph.jpg)