Breaking News:

Rektor Universitas Alma Ata Ingatkan Potensi Kantin Kampus Bisa Jadi Sumber Penularan Covid-19

Kebijakan pemerintah Indonesia untuk membuka kembali sekolah dalam pembelajaran tatap muka (PTM) perlu adanya kehati-hatian.

Penulis: Santo Ari | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Santo Ari
Rektor Universitas Alma Ata, Hamam Hadi 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Kebijakan pemerintah Indonesia untuk membuka kembali sekolah dalam pembelajaran tatap muka (PTM) perlu adanya kehati-hatian.

Dalam Konferensi Internasional yang digelar Universitas Alma Ata (UAA), The 3rd Asia-Pacific Partnership on Health and Nutrition Improvement (APHNI) 2021, Rektor UAA, Hamam Hadi menyoroti beberapa hal yang harus diperhatikan jika pemerintah membuka sekolah termasuk perguruan tinggi.  

"Yang pertama pastikan vaksin untuk anak sekolah tinggi, baik dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi. Idealnya lebih dari 80 persen," ujarnya Kamis (14/10/2021).

Baca juga: KREATIF, Pria di Sleman Ini Jual Kembang Gula Monster Goolale dengan Bentuk yang Menarik

Yang kedua adalah melakukan pembelajaran hibrid yakni menggabungkan luring dan daring. Untuk UAA sendiri, pihaknya memastikan mahasiswa yang datang ke kampus harus tervaksin Covid-19. Dan yang belum tervaksin tetap melakukan pembelajaran secara daring.

Selain itu, PTM juga dapat lebih aman dilakukan ketika Covid-19 sudah terkendali, setidaknya dalam tiga minggu angka penularannya rendah.

Meskipun sudah boleh masuk sekolah dan sudah tervaksin, protokol kesehatan tetap harus dijalankan. Saat ini proses PTM masih diterapkan secara terbatas, yakni siswa sekolah hanya masuk dua kali dalam seminggu, namun tidak menutup kemungkinan ke depan porsi PTM akan ditambah.

Maka dalam kesempatan itu ia juga menyoroti tentang kemungkinan dibukanya kembali kantin sekolah atau universitas.

"Ketika sekolah dibuka, maka kantin harus disiapkan. Karena kantin itu tempat berkerumun, dan bisa menjadi tempat penularan baru. Maka ketika membuka sekolah, perlu dipikirkan juga sistem pembukaan kantin sekolah juga," terangnya.

Baca juga: Dua Siswa MAN 2 Bantul Dapat Peringkat Dalam Pekan Olahraga Pelajar

Ia menyatakan, sebelum adanya Covid-19, kantin menjadi salah satu sumber masalah kesehatan anak-anak sekolah. Karena menurutnya, lebih dari 50 persen, kantin di sekolah terkategori tidak sehat, baik itu makanannya maupun dari segi higienisnya.  

"Oleh karena itu ketika ada pembukaan sekolah dan kantin sekolah, harus dipikirkan baik-baik. Supaya sistem manajemen kantin sekolah dapat diperbaiki dan lebih banyak makanan yang sehat dan higienis. Jadi, anak-anak masuk sekolah aman, anak tambah sehat dan pintar serta berkepribadian yang bagus," tandasnya. (nto)  

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved