Wisata Kota Yogya
WISATA BUDAYA dan SEJARAH YOGYA : Melihat Koleksi Langka Beragam Batik di Museum Batik
WISATA BUDAYA dan SEJARAH YOGYA : Melihat Koleksi Langka Beragam Batik di Museum Batik
Penulis: Yudha Kristiawan | Editor: Yudha Kristiawan
TRIBUNJOGJA.COM - Peringatan Hari Batik Nasional tanggal 2 Oktober lalu senantiasa dirayakan dengan mengenakan pakaian batik hampir oleh semua lapisan masyarakat.
Beragam motif batik dikenakan, mulai dari motif parang, truntum, sidomukti hingga motif khas batik pantura.
Motif motif batik yang dikenakan ini bisa jadi banyak yang tak mengetahui apa makna atau pesan yang tersembunyi di balik lahirnya motif motif ini.
Berkunjung ke Museum Batik Yogyakarta adalah salah satu jawabannya. Bagi yang menyukai wisata sejarah dan edukasi, museum yang terletak di Jalan Dr. Sutomo 13 A Yogyakarta ini bisa menjadi pilihan tepat untuk menikmati karya agung pujangga batik zaman dahulu.
Museum ini dididirikan dan dikelola secara mandiri oleh pasangan Hadi Nugroho dan Dewi Sukaningsih sejak tahun 1973 dan baru diresmikan tahun 1979.
Bangunan museum ini memang tak semegah dan semoderen museum lainnya, namun koleksi di dalamnya yang membuat museum ini sangat istimewa dan menarik minat para wisatawan manca dan nusantara.
Memasuki museum ini kita akan disambut dengan pajangan beberapa lembar kain batik dan foto foto yang berkaitan dengan sejarah perjalanan panjang batik di negeri ini.
Ada lembaran batik dengan motif khas yang dikenakan keluarga Kerajaan Yogyakarta dan Solo.
Di antaranya ada motif parang, kusumo klitik, banji dan motif tambal. Ini hanya sebagian kecil motif batik yang dikenakan khusus oleh keluarga kerajaan.
Untuk motif parang saja ada ratusan, menurut hirarkinya, motif parang dengan ukuran besar dipakai oleh seorang Raja yang dianggap paling besar pengaruhnya dan hanya boleh dikenakan oleh raja saja motif ini.
Selain itum ada sebuah pigura berisi potongan potongan kain batik dengan motof khas pesisir.
Baca juga: WISATA UNIK BANTUL : Lihat Koleksi Wayang Langka di Museum Wayang Beber Sekartaji
Potongan kain batik ini berasal dari tahun 1970 an. Kala itu terjadi tren kain batik utuh yang dipotong potong untuk kemudian dijadikan busana.
Bagi pendiri museum ini fenomena waktu itu membuatnya sedih karena sejatinya kain batik itu menurut beliau tak boleh seenaknya dipotong karena merupakan satu kesatuan dan setiap motif ada makna dan doa di dalamnya," terang Didik, pemandu museum.
Didik pun melanjutkan ke ruang selanjutnya yang berisi beragam canting, yakni alat utama untuk membatik yang memiliki cara kerja serupa pena.
Canting ini terbuat dari tembaga yang ujungnya dibentuk seperti ujung pena disebut cucuk, di atasnya terdapat ceruk tempat tinta disebut nyamplung dan gagang atau pegangan yang umumnya dulu terbuat dari bambu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pengunjung-menikmati-wisata-sejarah-batik.jpg)