Breaking News:

PTM MUlai Dilakukan hingga 80 Persenan

Wali Murid Waswas Anaknya Belajar di Kelas, Minta Sekolah Siaga

Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mulai dilaksanakan kembali di DIY. Meski menjadi angin segar dunia pendidikan, tapi masih ada kekhawatiran orang tua

Editor: Agus Wahyu
istimewa
Ilustrasi. Pelaksanaan PTM Terbatas di SMP Negeri 1 Playen, Gunungkidul pada Senin (20/09/2021). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pembelajaran Tatap Muka (PTM) mulai dilaksanakan kembali di DIY. Meski menjadi angin segar di dunia pendidikan, tapi masih ada kekhawatiran orang tua dengan kembalinya anak ke sekolah. mulai dilaksanakan kembali di DIY Orang tua berharap ada mitigasi jelas dari sekolah apabila ada anak, guru, maupun karyawan yang terpapar Covid-19.

“Aku oke saja kalau ada PTM, itu yang ditunggu, tapi tetap aku khawatir karena penyebaran Covid-19 ini kan cepat. Mungkin sekolah sudah mewajibkan protokol kesehatan (prokes) dan lain sebagainya, tapi kalau tiba-tiba ada saja yang longgar terus bagaimana?” ucap Rahayu Apri, salah satu orang tua murid kepada Tribun Jogja, Kamis (23/9).

Rahayu memiliki anak berusia 13 tahun yang saat ini duduk di kelas 7 SMP di DIY. Beruntung, anaknya sudah mendapatkan vaksinasi Covid-19 beberapa waktu lalu. Setelah mendengar ada vaksinasi Covid-19 untuk anak-anak, Rahayu mengusahakan agar anaknya segera mendapatkannya. “Awalnya ya berefek itu vaksinnya, Mbak. Ngantuk, lapar jadi satu, tapi aku bilang enggak apa-apa ngantuk atau lapar, masih ada nafsu buat makan,” tutur Rahayu.

Walau begitu, kekhawatiran itu tidak lantas hilang meski sang anak sudah mendapatkan perlindungan tambahan. Dia tetap takut ada klaster Covid-19 baru yang muncul di sekolah. “Harapannya, sekolah punya apa ya namanya, Satgas Covid-19 sendiri begitu. Jadi, ketika ada yang tidak menggunakan masker dengan benar, ditegur. Ada yang terkonfirmasi positif Covid-19, mitigasinya jelas. Langkah apa yang mau diambil itu jelas,” paparnya lagi.

Rahayu paham, sekolah sudah mengantisipasi penyebaran Covid-19 dengan mengurangi isi kelas. Akan tetapi, ia menilai, mitigasi terhadap potensi wabah tetap harus jelas, apalagi di lingkup sekolah.
Dia menjelaskan, selama dua tahun pandemi, satu keluarganya tidak pernah terkena Covid-19 karena menerapkan prokes yang ketat.

Sebelum diimbau untuk menggunakan masker dobel, Rahayu dan keluarga sudah mengenakan terlebih dahulu untuk berjaga-jaga. “Pas bulan Juli 2021, setiap hari aku dengar berita orang meninggal, hampir tiap subuh pasti ada saja yang diumumkan telah meninggal dunia. Jadi takut, jujur, tapi tidak mungkin kalau anak sekolah daring terus,” tutur Rahayu.

Menurutnya, sekolah daring sulit untuk diikuti anak. Hal ini lantaran si anak jadi tidak punya teman berbincang dengan rekan-rekan sebayanya. Belum dengan terbatasnya komunikasi dengan guru. Jelas tidak seintensif ketika belajar di kelas.

Sang anak jadi jarang bersosialisasi dengan orang lain, karena kekhawatiran adanya virus corona dan tidak pernah ke sekolah. “Mau tidak mau, kita harus berdampingan dengan virus itu sih, Mbak. Takut boleh, itu buat antisipasi agar kita enggak jorok saja,” katanya.

Untuk mengantisipasi sang anak terpapar Covid-19 di sekolah, Rahayu sudah menasehati putrinya agar tidak melepas masker ketika di luar rumah, sepengap apa pun yang dirasakan. Dia juga membekali anaknya dengan face shield sebagai penutup mata. Apabila pulang sekolah, Rahayu atau suami mengusahakan untuk segera menjemput sebelumnya.

“Aku bilang, lebih baik pengap pakai masker daripada pengap karena benar-benar tidak bisa bernafas akibat kena corona. Semoga sekolahnya lancar biar anak-anak makin pintar,” tandasnya.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved