Breaking News:

Kasus Covid-19 di Kota Yogyakarta Melandai Signifikan, Pemkot Pastikan Testing Tetap Maksimal 

Kasus Covid-19 di Kota Yogyakarta terus menunjukkan grafik penurunan, dalam kisaran satu bulan terakhir. Pemerintah setempat pun menegaskan, testing

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM/ Azka Ramadhan
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kasus Covid-19 di Kota Yogyakarta terus menunjukkan grafik penurunan, dalam kisaran satu bulan terakhir. Pemerintah setempat pun menegaskan, testing yang dilaksanakannya tetap sesuai ketetapan. 

Ketua Harian Satgas Penanganan Covid-19 Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi mengungkapkan, dalam setiap kasus yang ditemukan, setidaknya antara 10-15 orang kontak erat, masuk ke daftar tracing untuk dilakukan testing. 

Sehingga, ia memastikan, turunnya tren penularan di kota pelajar sepanjang Agustus dan September, tetap dibarengi dengan upaya testing yang masif. Karena itu, tandasnya, pelandaian ini, bukan karena testing yang turun. 

Baca juga: Tiga Tempat Perbelanjaan di Gunungkidul Mulai Gunakan Aplikasi PeduliLindungi

Selaras dengan data yang dikeluarkan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Yogyakarta dalam satu pekan ini, tambahan kasus harian selalu di bawah 30 orang. Sementara angka pasien meninggal dunia menurun cukup drastis. 

Pada Minggu (12/9/2021) lalu ada tambahan 10 kasus dan tanpa dijumpai pasien meninggal dunia. Kemudian, Senin (13/9/2021) tambahan 5 kasus dan tidak ada yang meninggal dunia, Selasa (14/9/2021) tambahan 23 kasus dan 3 meninggal dunia, Rabu (15/9/2021) tambahan 15 kasus dan 4 meninggal dunia, lalu Kamis (16/9/2021) terdapat tambahan 10 kasus, tanpa dibarengi pasien corona meninggal dunia. 

"Jadi, testing yang kita lakukan tetap tinggi, tapi kasusnya rendah. Mudah-mudahan angka itu memberikan optimisme bahwa protokol kesehatan benar-benar dijalankan dengan baik oleh masyarakat," ujarnya, Kamis (16/9/2021). 

Wakil Wali Kota Yogyakarta tersebut berujar, penurunan kasus dibarengi pula dengan bed occupancy rate (BOR) di rumah sakit rujukan Covid-19 yang semakin lengang. Ia menyebut, rata-rata BOR saat ini terisi 18 persen. 

"Sudah sangat rendah. Bahkan, yang ruang isolasi biasa sekarang hanya terisi 16 persen. Kemudian, yang ruangan ICU, 20 persen. Jadi, rata-rata 18 persen," katanya. 

Walau begitu, alokasi perawatan khusus pasien Covid-19, tetap tidak akan dikurangi. Setali tiga uang dengan shelter isolasi terpusat (isoter) di Rusunawa Bener Tegalrejo, dan Rusunawa Gemawang yang nyaris tidak terisi lagi. 

"Tetap kita siapkan. Karena kan mau tidak mau, kita harus mengantisipasi kalau ada lonjakan kasus. Harapannya tidak ada, tapi kalau kejadian kita harus menyiapkan isoter ya, untuk mengurangi persebaran virus," terangnya. 

Baca juga: UPDATE Covid-19 DI Yogyakarta 16 September 2021: Tambah 111 Kasus Baru, 9 Orang Meninggal

"Jadi, isoter itu fungsinya juga untuk meminimalisir, atau mengurangi paparan Covid-19 di lingkungan, atau keluarga. Makanya, sudah saya sampaikan ke RT dan RW, kalau ada yang positif, bawa saja ke isoter," tambah Heroe. 

Menurut Heroe, langkah tersebut merupakan upaya untuk mempertahankan kondisi pelandaian kasus, supaya tidak terjadi lagi lonjakan. Bagaimana tidak, sejauh ini, tidak dijumpai lagi RT di kota pelajar yang zona merah. 

"Sekarang 95,3 persen RT kita zona hijau. Tidak ada yang oranye, apalagi merah. Jadi, tinggal kuning saja. Kondisi ini sudah sama seperti sebelum Juli lalu," ujarnya. 

"Artinya, kalau kita bisa menjalankan prokes dengan baik, penularan virus itu bisa turun terus. Jadi, tantangannya adalah, jangan sampai mengabaikan prokes, kita jaga bersama kondisi ini, ya," pungkas Heroe. (aka)

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved