Breaking News:

Feature

Ngadiono dan Keluarga Tinggal di Kandang Sapi Gegara Utang

NGADIONO dan keluarga berbagi tempat dengan sapi dan kambing. Mereka tinggal di tempat yang sama, yakni bangunan kandang di tepi Sungai Oya.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Agus Wahyu
istimewa
TINGGAL DI KANDANG - Ngadiono beserta Sumini di depan bangunan kandang yang dijadikan rumah, Selasa (31/8/2021) lalu. 

Ngadiono (52) terpaksa menjalani hidup prihatin bersama istri dan tiga anak. Mereka menetap di sebuah kandang sapi di Padukuhan Kedungranti, Kalurahan Nglipar, Kapanewon Nglipar, Kabupaten Gunungkidul.

NGADIONO, sang istri, dan anak-anak selama ini berbagi tempat dengan sapi dan kambing. Mereka tinggal di tempat yang sama, yakni bangunan kandang di tepi Sungai Oya.

Dulu, Ngadiono dan keluarga punya rumah sendiri. Saat itu, ia masih bekerja sebagai tukang sablon, sedangkan istri menjadi pedagang sayur. Kehidupan mereka baik-baik saja.

Utang menjadi awal permasalahan keluarga Ngadiono. Faktor pemicunya adalah pengelolaan operasional yang kurang bagus. Ia dan istri terjerat utang rentenir hingga puluhan juta.

“Belum lagi utang kami di bank. Akhirnya, saya dan istri harus merelakan rumah untuk dijual kepada adik,” kata Ngadiono ketika bertemu awak media pada Selasa (31/8/2021) lalu.

Sebelum dijual, rumah Ngadiono sempat rusak akibat gempa bumi 2006 silam. Berkat bantuan para donatur, hunian tersebut bisa dibangun kembali dan ia tinggali bareng keluarga.

Ternyata, utang Ngadiono dan istri belum 100 persen lunas. Untuk menyelesaikan sisa pinjaman, Ngadiono pun memutuskan untuk merantau ke Bangka pada 2012, bekerja di kebun sawit.

“Setahun berselang, istri dan dua anak saya menyusul ke Bangka. Istri saya juga bekerja sebagai buruh harian di kebun sawit. Kami bekerja keras mengumpulkan uang,” tambahnya.

Sumini (44), istri Ngadiono, menyambung, penghasilan selama bekerja sebagai buruh harian di kebun sawit tidaklah seberapa. Namun, ia dan suami seakan tidak punya pilihan lain.

“Per hari, suami dibayar Rp50.000, saya Rp40.000. Kami mau tak mau menjalaninya demi melunasi sisa utang. Tapi, waktu berselang, semangat kami akhirnya luntur,” katanya.

Sumini, Ngadiono, beserta anak-anak memutuskan kembali ke kampung halaman. Mereka tinggal seadanya. Pada 2018, mereka sempat menempati sebuah gubuk di tengah hutan.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved