Breaking News:

Feature

Ngadiono dan Keluarga Tinggal di Kandang Sapi Gegara Utang

NGADIONO dan keluarga berbagi tempat dengan sapi dan kambing. Mereka tinggal di tempat yang sama, yakni bangunan kandang di tepi Sungai Oya.

Penulis: Alexander Aprita | Editor: Agus Wahyu
istimewa
TINGGAL DI KANDANG - Ngadiono beserta Sumini di depan bangunan kandang yang dijadikan rumah, Selasa (31/8/2021) lalu. 

Barulah sekitar empat bulan terakhir, Ngadiono dan Sumini menempati kandang sapi dan kambing di tepi Sungai Oya. Mereka mencari penghasilan sebagai petani penggarap.

Bantuan
Ngadiono dan Sumini memiliki empat anak. Anak nomor dua menetap bersama kerabat Sumini di Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Anak pertama tinggal di rumah nenek.

Kendati demikian, tak jarang, anak pertama mereka pun ikut tinggal di bangunan kandang. Di sana, ia bisa berkumpul bersama Ngadiono, Sumini, serta anak ketiga dan anak keempat.

Satu dari dua anak terakhir Ngadiono dan Sumini masih harus menjalani pembelajaran virtual. Ia hanya mengandalkan perangkat komunikasi sederhana agar tetap bisa mengikuti pembelajaran.

“Namun, terkadang, perangkat yang dipakai bermasalah. Kalau sudah seperti itu, anak saya terpaksa pinjam perangkat milik saudara agar bisa tetap belajar secara daring,” kata Ngadiono.

Ngadiono sekarang tetap berupaya menyisihkan uang yang didapat untuk kebutuhan sehari-hari. Ia menggarap lahan palawija. Ternak yang tinggal bersamanya sebagian milik saudara.

Dukuh Kedungranti, Tukiyarno, menjelaskan, Ngadiono dan keluarga sejak awal terdaftar sebagai warganya. Bangunan kandang yang mereka tempati didirikan oleh Ngadiono.

“Sebenarnya tidak boleh mendirikan kandang ternak di situ. Namun, ya, bagaimana lagi. Mungkin untuk memudahkan ia bekerja menggarap lahan palawija,” terangnya.

Ia mengatakan, inisiatif pemberian bantuan sudah diupayakan, termasuk mendirikan rumah bagi keluarga Ngadiono. Karena satu dan lain hal, upaya tersebut pun jalan di tempat.

Meski begitu, Tukiyarno berujar, pihaknya berencana mendirikan rumah semipermanen untuk mereka. Lokasinya di tanah kas kalurahan sehingga mereka tidak lagi di tepi Sungai Oya.

“Sebab, di tepi Sungai Oya rawan banjir. Kami berencana pindahkan mereka ke tanah kas kalurahan. Semoga rencana itu segera terealisasi,” pungkasnya . (Alexander Ermando)

Baca Tribun Jogja edisi Kamis 2 September 2021 halaman 01.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved