Breaking News:

FEATURE

PR Besrsama Sulitnya Cetak Generasi Penerus Wasit Bulu Tangkis untuk Tampil di Even Dunia

Ketekunan dan kerja keras merupakan barang yang mahal dimiliki oleh seseorang, begitu pula dengan tekad yang kuat untuk memiliki sesuatu.

Penulis: Taufiq Syarifudin | Editor: Agus Wahyu
TRIBUNJOGJA/ Alexander Ermando
Bupati Gunungkidul Sunaryanta (kiri) memberikan penghargaan pada Wahyana, wasit cabang bulutangkis di Olimpiade Tokyo 2020 yang sudah kembali ke Tanah Air, Selasa (17/08/2021) 

Ketekunan dan kerja keras merupakan barang yang mahal dimiliki oleh seseorang, begitu pula dengan tekad yang kuat untuk memiliki sesuatu. Sebagian kerja keras kadang harus pupus di tengah jalan karena rintangan hidup dirasa lebih berat.

NAMUN tidak bagi Wahyana, wasit bulu tangkis yang belakangan ini semakin dikenal publik setelah dirinya memimpin laga final tunggal putri di Olimpiade Tokyo 2020. Tak akan ada yang menyangka, proses dipilihnya ia menjadi wasit di Olimpiade Tokyo 2020 telah melalui banyak hal. Seperti seleksi administrasi, kemampuan sampai pengalaman.

"Proses saya jadi wasit di Olimpiade kemarin itu bukan main panjangnya. Seleksi wasit itu sudah dimulai sejak dua tahun ke belakang. Pasti ada ribuah wasit yang diseleksi," katanya, tempo hari.

Lebih jauh ia bercerita, mendekati waktu keberangkatan ke Jepang, Yana, sapaan akrabnya, harus menjalani tes usap rutin agar dirinya bisa berangkat ke ajang olahraga tertinggi dunia itu. "Saya itu sampai swab tes tujuh kali waktu mau berangkat, satu kali saja positif saya betul-betul tidak bisa terbang ke Tokyo," tegasnya.

Syarat tersebut merupakan salah satu permintaan penyelenggara supaya memastikan wasit yang akan menjadi pengadil lapangan di sana, benar-benar negatif Covid-19. Namun, sejatinya syarat tes usap itu hanya lima kali, naik menjadi tujuh kali karena Indonesia menjadi salah satu negara episentrum Covid-19.

"Level pemeriksaannya untuk saya juga ikut naik," jelas pria yang juga guru di SMP 4 Patuk itu.

Kendala
Sisa waktu Yana menjadi wasit di ajang internasional tidak lama lagi, hanya sekitar satu tahun ke depan, ia akan masuk waktu pensiunya sebagai wasit. Namun pengalamannya di bidang itu sudah ia lalui berpuluh tahun ke belakang.

Tercatat, sebanyak 78 kejuaraan internasional dan nasional sudah ia pimpin dengan baik. Kini saatnya Yana mencari pengganti untuk tetap mengibarkan bendera merah putih di setiap ajang internasional.

Sayangnya, ekspektasi itu harus sedikit terkendala karena sulitnya mencari pengganti yang ideal dan memenuhi kriteria wasit dunia. "Sulit memang mencari regenerasi wasit di Indonesia, selain tahu aturan main dan sertifikat, mereka juga harus mahir bahasa Inggris. Rata-rata kendala dari wasit-wasit sekarang adalah bahasa Inggris," katanya menjelaskan.

Pada Olimpiade Tokyo 2020 lalu, tercatat hanya dua orang wasit asal Indonesia yang memimpin laga di cabang olahraga bulu tangkis. Ialah Qomarul Lailah, perempuan asal Surabaya yang menjadi rekan Yana di Olimpade Tokyo 2020.

Halaman
12
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved