Selandia Baru Berlakukan Lockdown Lagi Gaga-gara Satu Kasus Baru Covid-19
Kasus itu terdeteksi di Auckland, yang akan dilakukan kuncitara atau karantina wilayah selama seminggu, sementara negara lain akan ditutup tiga hari
Penulis: Joko Widiyarso | Editor: Joko Widiyarso
Dampak varian Delta bagi yang tidak divaksin
Para ahli penyakit dunia terus mempelajari apakah varian Delta Covid-19 dapat membuat orang, terutama yang tidak divaksinas,i lebih sakit daripada saat terinfeksi varian sebelumnya.
Seperti diketahui, saat ini gelombang baru infeksi versi terbaru virus corona telah menyerang sejumlah negara di seluruh dunia.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (AS) memperingatkan bahwa varian Delta kemungkinan lebih parah daripada versi virus sebelumnya, menurut laporan internal yang dipublikasikan pada hari Jumat.
Varian baru itu pertama kali diidentifikasi di India dan sekarang menyebar di seluruh dunia.
Badan tersebut mengutip penelitian di Kanada, Singapura, dan Skotlandia yang menunjukkan bahwa orang yang terinfeksi varian Delta lebih mungkin dirawat di rumah sakit daripada pasien di awal pandemi.
Dalam wawancara dengan Reuters, para ahli penyakit mengatakan tiga penelitian menunjukkan risiko yang lebih besar dari varian tersebut, tetapi populasi penelitian terbatas dan temuannya belum ditinjau oleh para ahli luar.
Dokter yang merawat pasien yang terinfeksi Delta menggambarkan timbulnya gejala Covid-19 yang lebih cepat, dan di banyak daerah secara keseluruhan meningkatkan kasus serius.
Tetapi para ahli mengatakan perlu lebih banyak riset untuk membandingkan hasil di antara sejumlah besar individu dalam studi epidemiologi untuk memilah apakah satu varian menyebabkan penyakit yang lebih parah daripada yang lain.
“Sulit untuk menentukan peningkatan keparahan dan bias populasi,” kata Lawrence Young, ahli virologi di Warwick Medical School Inggris kepada Reuters.
Selain itu, menurut para ahli, kemungkinan tingkat penularan Delta yang luar biasa juga berkontribusi pada lebih banyak kasus parah yang tiba di rumah sakit.
“Delta menular seperti cacar air dan jauh lebih menular daripada pilek atau flu biasa,” bunyi pernyataan pada laporan CDC.
Rawat inap
Shane Crotty, ahli virologi di La Jolla Institute for Immunology di San Diego, mengatakan indikasi paling jelas bahwa varian dapat menyebabkan penyakit yang lebih parah berasal dari penelitian di Skotlandia, yang menemukan bahwa Delta meningkatkan risiko rawat inap dibandingkan dengan varian sebelumnya.
Mayoritas rawat inap dan kematian akibat virus corona di Amerika Serikat terjadi pada orang yang belum divaksinasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/perdana-menteri-selandia-baru-jacinda-ardern-berbicara-di-konferensi-pers-soal-covid-19-5-maret-2021.jpg)