Mengenal Lebih Dekat Sosok Berjasa Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Bapak Kepanduan Dunia yakni Robert Baden-Powell, di Indonesia kita juga memiliki sosok Bapak Pramuka Indonesia yakni Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Penulis: Kurniatul Hidayah | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Hari ini, 14 Agustus 2021 bertepatan dengan momen Peringatan ke-60 Hari Pramuka.
Hal tersebut menandakan bahwa Gerakan Pramuka telah lama ada di Indonesia.
Bila saat menjadi anggota Pramuka dulu kita hanya mengenal sosok Bapak Kepanduan Dunia yakni Robert Baden-Powell, di Indonesia kita juga memiliki sosok Bapak Pramuka Indonesia yakni Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX dikenal sebagai Raja Keraton Yogyakarta yang bertahta di masanya dan memiliki segudang jasa untuk rakyat dan bangsa Indonesia.
Dikutip dari laman resmi Kwarda DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjabat sebagai Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka 4 periode 1961-1974.
Beliau menjadi orang pertama di Indonesia yang mendapatkan penghargaan tertinggi Pramuka Dunia “Bronze Wolf” (Serigala Perunggu) dari Presiden World Scout Conference Mr. William D. Campbell dan Sekjen World Scout Bureau Geneva Dr. Laszlo Nagy, dalam sebuah upacara di Silang Monas, Jakarta, 1 Juni 1974.
Baca juga: Kharisma Sang Raja di Pameran Tahta untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Baca juga: Mengenal Sosok Raja yang Membumi dalam Pameran Tahta untuk Rakyat, Sri Sultan Hamengku Buwono IX
Penghargaan Bronze Wolf diberikan oleh Komite Pramuka Dunia (World Scout Committee) sebagai pengakuan atas jasa-jasa seseorang kepada Gerakan Pramuka Dunia.
Prestasi sosok yang lahir pada 12 April 1912 dalam bidang kepramukaan adalah berhasil menggabungkan sekitar 70 organisasi kepanduan yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX mengemban tugas sebagai Ketua Kwartir Nasional hingga belasan tahun, berakhir pada tahun 1974.
Wakil Presiden Republik Indonesia tahun 1973-1978 ini berhasil memperkenalkan dan mempopulerkan gerakan pramuka di tingkat nasional maupun di tingkat internasional.
Oleh sebab itu, beliau mendapat julukan sebagai Bapak Pramuka Indonesia.
Deretan Jasa Mulia
Dikutip dari laman kratonjogja.id, Sri Sultan Hamengku Buwono IX merupakan sosok berjasa di balik pembangunan Selokan Mataram yang wujud dan manfaatnya bisa dirasakan hingga kini.
Saluran air yang menghubungkan Sungai Progo dengan Kali Opak yang membelah Yogyakarta dari barat ke timur ini memberi pengairan yang tak pernah berhenti bagi lahan-lahan pertanian di sekitarnya.
Proyek selokan mataram ini berhasil menyelamatkan banyak penduduk Yogyakarta untuk tidak diikutsertakan dalam program kerja paksa Jepang, Romusha.
Sebuah solusi brilian yang tidak hanya bisa menyelamatkan nyawa rakyatnya di kala itu, tetapi juga membuat manfaat yang terus bisa dinikmati hingga kini.
Di bidang pendidikan, Sri Sultan Hamengku Buwono IX mendukung penuh berdirinya Universitas Gadjah Mada.
Lembaga perguruan tinggi yang telah mencetak banyak tokoh nasional maupun internasional ini awalnya menggunakan Pagelaran dan bangunan-bangunan lain di dalam dan sekitar keraton untuk dijadikan lokasi belajar mengajar.
Sejalan dengan perkembangan universitas, sebidang tanah di Bulak Sumur disediakan oleh Sultan untuk dibangun gedung utama, Balairung UGM, yang dirancang sendiri oleh Presiden Soekarno kala itu.
Seperti raja-raja Yogyakarta pendahulunya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX juga mempunyai sumbangsih yang besar di bidang seni.
Terinspirasi dari cerita wayang golek, beliau menciptakan tari klasik Golek Menak yang meneguhkan karekter khas gerak tari gaya Yogyakarta. Karya lain yang beliau hasilkan diantaranya adalah tari Bedhaya Sapta dan Bedhaya Sanghaskara (Manten).
Sumbangsih Kemerdekaan Indonesia
Dua hari setelah proklamasi, beliau mengirim telegram ucapan selamat kepada para proklamator.
Dua minggu setelahnya, tepatnya tanggal 5 September 1945, beliau bersama Paku Alam VIII, mengeluarkan maklumat yang menyatakan bahwa daerah Yogyakarta adalah bagian dari wilayah Republik Indonesia.
Yogyakarta dengan demikian resmi memasuki abad modernnya, dimana dia bukan lagi sebuah entitas negara sendiri, tetapi bagian dari negara republik.
Langkah beliau yang didukung sepenuhnya oleh rakyatnya ini, di kemudian hari dibuktikan dengan pengabdian yang total.
Ketika negara yang baru lahir ini menghadapi tekanan dari pemerintah kolonial yang datang kembali, beliau mengundang para tokoh bangsa untuk pindah ke Yogyakarta.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyatakan bahwa Yogyakarta siap menjadi ibukota negara Republik yang baru berdiri tersebut.
Peran Sri Sultan Hamengku Buwono IX terhadap republik juga ditunjukkan melalui dukungan finansial.
Selama pemerintahan republik berada di Yogyakarta, segala urusan pendanaan diambil dari kas keraton. Hal ini meliputi gaji Presiden/ Wakil Presiden, staff, operasional TNI hingga biaya perjalan dan akomodasi delegasi-delegasi yang dikirim ke luar negeri.
Sri Sultan Hamengku Buwono IX sendiri tidak pernah mengingat-ingat berapa jumlah yang sudah dikeluarkan.
Bagi beliau hal ini sudah merupakan bagian dari perjuangan. Bahkan beliau memberi amanat kepada penerusnya untuk tidak menghitung-hitung apalagi meminta kembali harta keraton yang diberikan untuk republik tersebut.
Pada tahun 1949 ketika Soekarno-Hatta beserta seluruh jajaran staff kabinet RI harus kembali ke Jakarta, Sri Sultan Hamengku Buwono IX menyampaikan pesan perpisahan dengan sangat berat hati.
Ujarnya, “Yogyakarta sudah tidak memiliki apa-apa lagi, silakan lanjutkan pemerintahan ini di Jakarta”.
Demikianlah Sri Sultan Hamengku Buwono IX menjalankan sabda pandita ratu-nya, sesuai telegram yang beliau kirim dua hari setelah proklamasi, bahwa beliau “sanggup berdiri di belakang pimpinan Paduka Yang Mulia”.
Sejarah mencatat bahwa perjuangan Indonesia menuju bentuknya saat ini mengalami fase pasang surut. Di ujung berakhirnya era Orde Lama, ketika Soeharto mengambil alih kendali pemerintahan, kepercayaan negara-negara dunia kepada Indonesia sedang berada di titik terendah.
Tak satupun pemimpin dunia yang mengenal Soeharto. Indonesia sebagai negara juga sedang dijauhi karena sikap anti-asing yang sangat kuat di era akhir Order Lama.
Di saat seperti ini, Sri Sultan Hamengku Buwono IX pun menyingsingkan lengan bajunya, keliling dunia untuk meyakinkan para pemimpin negara-negara tetangga bahwa Indonesia masih ada, dan beliau tetap bagian dari negara itu. Dengan demikian kepercayaan internasional pelan-pelan dapat dipulihkan kembali. (Kur)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kisah-sri-sultan-hamengku-buwono-ix-siapkan-calon-sultan-keraton-yogyakarta_20180309_063659.jpg)