Banyak Kasus Resistensi Antibiotik di Indonesia, Pembeli Obat Wajib Perhatikan Ini

Penelitian terbaru yang dilakukan oleh peneliti Universitas Gadjah Mada, Universitas Sebelas Maret, Kementerian Kesehatan Indonesia, Kirby Institute

Tayang:
Editor: Kurniatul Hidayah
Shutterstock
Ilustrasi 

Kondisi tersebut dikatakan Luh Putu menunjukkan adanya kompleksitas dari persoalan praktik pemberian antibiotik tanpa resep.

Meskipun ada motivasi untuk mencari keuntungan, tetapi pemberian obat-obatan tanpa resep ini dianggap sebagai norma. Dengan begitu kedepan perlu adanya perubahan peraturan dan budaya seputar pemberian antibiotik.

Baca juga: Info Prakiraan Cuaca BMKG DI Yogyakarta Hari Ini Sabtu 14 Agustus 2021, Potensi Hujan Ringan-Sedang

Penelitian ini dilakukan sebagai bagian dari Protecting Indonesia from the Threat of Antibiotic Resistance (PINTAR) dan didukung oleh hibah dari Indo-Pacific Centre for Health Security (DFAT) dibawah Australian Government’s Health Security Initiative.

Dalam penelitian ini tim PINTAR bekerja sama dengan Pemerintah Indonesia dalam mengembangkan strategi untuk meningkatkan penggunaan antibiotik di sektor swasta.

Prof Probandari dari Universitas Sebelas Maret, salah satu peneliti utama PINTAR mengatakan bahwa  di Indonesia ada cukup banyak tekanan terhadap sistem kesehatan.

Situasi menjadi brtambah rumit karena pandemi COVID-19 saat ini. Oleh sebab itu pemberian antibiotik yang selama ini tidak diatur dengan baik perlu segera ditangani.

“Dalam banyak hal COVID-19 telah memperberat masalah penjualan antibiotik secara bebas. Semakin banyak orang yang sakit atau takut menjadi sakit, serta mencoba mencari saran medis dan obat-obatan seperti antibiotik di mana pun,” jelasnya.

Menurutnya perlu ada pendekatan dari berbagai aspek menghadapai persoalan pemberian antibiotik tanpa resep ini.

Banyak hal yang perlu dipertimbangkan mulai dari kebutuhan untuk memaksimalkan keuntungan oleh apotek dan toko obat swasta, tingginya permintaan antibiotik dari pelanggan, dan dorongan dari pemilik untuk bersaing dengan toko lain.

“Kabar baiknya adalah bahwa Kementerian Kesehatan Indonesia menjadikan hal ini sebagai prioritas dan mengalokasikan sumber daya untuk menemukan solusi,” tuturnya. (Rls)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved