Ketua PPMAY: Malioboro Ngenes, Omzet Terjun Bebas

Omzet pelaku usaha di kawasan Malioboro semakin terjun bebas semenjak Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diberlakukan oleh pemerintah.

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA.COM / Miftahul Huda
Suasana kawasan Malioboro masih sepi wisatawan meski sudah ada kelonggaran aktivitas, Rabu (4/8/2021) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Omzet pelaku usaha di kawasan Malioboro semakin terjun bebas semenjak Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) diberlakukan oleh pemerintah.

Terhitung sudah 17 bulan lebih pandemi menyebar di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan belum juga berakhir sampai saat ini.

Banyaknya kebijakan pembatasan yang diberlakukan pemerintah membuat pelaku usaha di Malioboro gigit jari, karena omzet yang terus berkurang.

Baca juga: Tuntas Oktober, Pemkot Yogyakarta Tingkatkan Jumlah Vaksinasi Harian Hingga 3 Kali Lipat

Ketua 1 Perkumpulan Pengusaha Malioboro-Ahmad Yani (PPMAY) Sodikin mengatakan, kondisi pelaku usaha, pedagang, dan pelaku industri pariwisata di Malioboro saat ini ngenes. 

Sodikin memiliki dua toko di kawasan premium Kota Yogyakarta tersebut. Namun demikian, dirinya tak dapat lagi berharap dengan dua toko yang dimilikinya itu lantaran kini sepi pembeli.

"Kondisi di Malioboro sekarang ngenes. Semua pelaku bisnis yang berkaitan dengan wisata pasti menangis. Saya punya dua toko, satunya sehari sekarang hanya dapat Rp250 ribu. Satunya gak dapat apa-apa," katanya, di Malioboro, Senin (9/8/2021)

Ia menjelaskan, sebelum PPKM diterapkan, selama satu tahun dirinya masih dapat berjualan meski omzet yang didapat terus menunjukan penurunan.

"Dan untuk PPKM ini kami tidak turun lagi. Tapi terjun bebas, kalau turun dari 10 persen ke 9 persen. Lah ini dari 10 persen langsung 1 persen," terang dia.

Ia berharap para pemangku kebijakan baik dari pemerintah pusat, maupun pemerintah daerah dalam mengeluarkan kebijakan harus bisa menguntungkan semua pihak.

Baca juga: Sri Sultan Hamengku Buwono X Sebut Ekonomi DI Yogyakarta Tetap Tumbuh Saat PPKM Level 4

Sodikin tidak keberatan apabila pemerintah lebih mengutamakan kesehatan, akan tetapi dirinya meminta supaya pemerintah juga memberikan solusi bagi pekerja dan pengusaha khususnya yang berada di kawasan Malioboro.

Dia juga menginginkan kebijakan PPKM Level 4 tidak diperpanjang lagi, karena sudah banyak toko di Malioboro yang terjual lantaran tak sanggup lagi bertahan ditengah krisis pandemi.

"Harapannya jangan diperpanjang lagi lah. Karena sudah banyak toko yang terjual, itu yang ditulisi spanduk, sama yang enggak ditulisi banyak loh," pungkasnya. (hda)

Sumber: Tribun Jogja
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved