Sudah Seribu Orang di Bantul Meninggal Terpapar Covid-19
Dari data corona.bantulkab.go.id hingga 1 Agustus 2021, total kasus kematian akibat virus menular itu sudah mencapai 1.000 orang.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL -- Jumlah kematian akibat Covid-19 di Kabupaten Bantul terus bertambah dari hari ke hari.
Dari data corona.bantulkab.go.id hingga 1 Agustus 2021, total kasus kematian akibat virus menular itu sudah mencapai 1.000 orang.
Satuan Tugas (Satgas) Penanganan covid-19 setempat menyebut, kasus kematian banyak disebabkan oleh faktor usia lanjut (lansia) dan penyakit penyerta.
"Menurut usia, karena lansia lebih dari 55 tahun. (Kalau) menurut ada tidaknya penyakit penyerta, dikarenakan ada penyakit penyerta," jelas Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Bantul, Sri Wahyu Joko Santoso, Senin (2/8/2021).
Menurut Oki, sapaan Sri Wahyu Joko Santoso, pasien covid-19 di Bumi Projotamansari banyak yang meninggal dunia di Rumah Sakit.
Meskipun ada juga yang meninggal saat Isolasi mandiri. Penyebabnya karena terlambat tertangani.
Selama ini, kata dia, masih banyak pasien yang tidak mau menjalani Isolasi di selter Kabupaten maupun Kalurahan karena merasa tidak memiliki keluhan berat.
Padahal, pasien covid-19 yang memiliki gejala sangat dianjurkan untuk isolasi di selter Kabupaten maupun RS rujukan.
Baca juga: Kabar Duka, Nakes Hamil 7 Bulan di RS PKU Muhammadiyah Bantul Gugur karena Covid-19
Baca juga: Bansos Dipercepat, Ini Sederet Bantuan yang Bergulir di Bantul
Karenanya, Puskemas sejauh ini melakukan pendataan dan memilah, pasien mana yang harus dibawa ke selter dan siapa yang boleh isolasi di rumah.
Pasien yang dibolehkan isolasi mandiri di rumah ada sejumlah kriteria.
"Mulai kriteria tidak ada gejala, sampai kelayakan rumah. Kalau bergejala dianjurkan ke shelter kabupaten atau RS tergantung derajat gejala dan kompetensi di shelter dan RS yang dituju," jelasnya.
Kepala Dinas Kesehatan Bantul Agus Budi Rahardjo sebelumnya menyampaikan, kematian tinggi bisa terjadi oleh sejumlah faktor.
Di antaranya ketika pasien covid dengan gejala sedang menuju berat namun tidak bisa mengakses fasilitas rumah sakit rujukan karena kondisi tempat tidurnya sudah penuh.
"Kalaupun akhirnya mendapatkan rujukan, sudah terlambat. Ada juga yang (meninggal) tidak sempat mendapat rujukan," kata dia, saat meninjau RSLKC Bambanglipuro, 27 Juli lalu.
Setiap malam, pihaknya melakukan triase atau identifikasi pasien untuk mengambil keputusan tepat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/jumlah-pemakaman-prokes-covid-19-kota-yogyakarta-sepanjang-juli-2021.jpg)