Sebanyak 90 Persen Pasien Positif Covid-19 di Bantul Isolasi Mandiri 

Mayoritas pasien positif Covid-19 di Kabupaten Bantul menjalani isolasi mandiri (isoman). Jumlahnya bahkan mencapai 90 persen dari total kasus aktif.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Kurniatul Hidayah
dok.istimewa
Ilustrasi Covid-19 

Dikatakan Agus, kematian itu bisa terjadi ketika pasien dengan gejala sedang menuju berat namun tidak bisa mengakses fasilitas rumah sakit rujukan karena kondisi tempat tidurnya sudah penuh.

"Kalaupun akhirnya mendapatkan rujukan, sudah terlambat. Ada juga yang (meninggal) tidak sempat mendapat rujukan," kata dia. 

Pihaknya mengaku setiap malam melakukan triase atau identifikasi pasien untuk mengambil keputusan tepat, pasien mana yang beresiko meninggal, atau beresiko memburuk kondisi klinisnya apabila tidak segera ditangani medis dan pasien mana yang masih dengan aman menunggu. 

Baca juga: Sebanyak 5.533 Orang Telah Disuntik Vaksin Covid-19 Melalui Gerai Vaksin Presisi Polres Magelang

Pasien Covid-19 kondisinya bermacam-macam. Ada yang sudah mengalami penurunan perburukan, saturasi oksigen rendah di angka 80, 60 bahkan ada yang turun mencapai 50.

Setiap malam, pihaknya mengaku harus jeli membuat triase sekitar 30 pasien yang dilist harus masuk Rumah Sakit

"Pusing kita. (Apalagi) hampir semua RS penuh dan BOR rata-rata sudah diatas 93 persen. Sehingga sulit sekali cari rujukan. Mengapa banyak terjadi (kematian) ya karena kondisinya memang seperti itu," kata dia. 

Pasien dengan gejala berat memang tidak mungkin dirawat di Selter. Sejauh ini Selter Kabupaten di Bantul, meksipun sudah di-upgrade semi faskes dengan penambahan nakes dan oksigen konsentrator namun hanya diperuntukkan untuk merawat pasien gejala sedang. Pasien gejala berat tetap harus dibawa ke RS rujukan. 

Masalahnya, tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di rumah sakit rujukan dan rumah sakit lapangan khusus Covid-19 di Kabupaten Bantul sudah menembus di atas 90 persen. 

Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan, Dinas Kesehatan Bantul, drg. Sapta Adisuka Mulyatno menyampaikan, keterisian tempat tidur di rumah sakit di Bantul nyaris selalu penuh.

Sebab, jumlah kasus positif Covid-19 banyak sehingga setiap hari pasien bergantian keluar masuk perawatan rumah sakit terus menerus. Menurut dia, BOR yang kondisinya selalu penuh itu dapat mempengaruhi angka kematian pasien.  

"BOR hampir tiap hari penuh berdampak pada angka kematian pasien. Karena keterbatasan tempat, tenaga, sarana dan prasarana. Termasuk apabila oksigen sulit," kata dia. 

Meski tempat tidur sudah nyaris penuh, pihkanya tetap memberi pelayanan. Caranya dengan menggunakan sistem triase tersebut. Sistem ini dibuat berjenjang dari selter Kalurahan, Kabupaten, RS Lapangan hingga RS Rujukan Covid-19.

Apabila ada pasien di RS Rujukan namun kondisinya sudah mulai membaik, meskipun masih dalam masa isolasi, maka akan diturunkan di Selter Kalurahan. Agar Rumah Sakit bisa bergantian merawat pasien yang lebih membutuhkan. (rif)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved