Kisah Bu Lurah di Bantul Sucikan Jenazah Covid-19

Bu Lurah Wirokerten, di Kabupaten Bantul, Rahma Wijayaningsih. Ia mendedikasikan dirinya untuk menjadi petugas rukti

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Iwan Al Khasni
Istimewa
Lurah Wirokerten, Banguntapan, Rahma Wijayaningsih bersama tim Pemulasaran dan pemakaman Kalurahan, saat bertugas mengurus jenazah dengan protokol Covid-19. 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL-- Pandemi Corona yang seakan tak ada habisnya ini memaksa semua orang untuk ambil peran.

Begitu juga yang dilakukan oleh Bu Lurah Wirokerten, di Kabupaten Bantul, Rahma Wijayaningsih.

Ia mendedikasikan dirinya untuk menjadi petugas rukti atau pemandi jenazah covid-19.

Semua itu dilakukan selain membantu tim pemulasaran dan pemakaman, juga karena tergugah ingin menyempurnakan jenazah, sebelum ke ilahi.

Kepada Tribun Jogja, Rahma bercerita, di Kalurahan Wirokerten, Banguntapan petugas pemulasaran dan pemakaman jenazah, awalnya dikhususkan untuk laki-laki.

Anggotanya diambil dari perwakilan masing-masing Padukuhan.

Namun, seiring meningkatnya kasus penularan dan jumlah kematian yang harus diurus dengan protokol covid-19 membuat dirinya prihatin.

Terlebih, pada tahun ini banyak pasien isolasi yang meninggal dunia di rumah.

"Disitu saya mulai tergugah. Agar ada perempuan juga yang ikut (membantu rukti jenazah)," kata dia, Jumat (23/7/2021).

Urusan memandikan jenazah, Rahma sebenarnya sudah memiliki bekal ilmu.

Sebab, sebelum pandemi datang dirinya sudah terbiasa melakukan itu.

Namun, mengurus jenazah covid-19 jelas berbeda dengan jenazah biasa.

Sebelum benar-benar turun mengurus jenazah, dirinya bersama dua rekannya, Novi dan Ani, meminta mentoring dan ada pelatihan.

Kini, sudah dua bulan, Rahma selalu turun memandikan jenazah perempuan warganya, maupun jenazah perempuan di desa sebelah, dengan protokol tetap covid-19.

Dalam sehari, ia mengaku tidak mesti berapa yang harus di mandikan. Apalagi ditengah kasus kematian yang cukup tinggi.

Ia bersama tim Pemulasaran dan Pemakaman mengaku selalu standby selama 24 jam.

Saat dibutuhkan, maka bergegas berangkat.

"Pulangnya bisa sampai pagi. Makanya, saya selalu bawa baju ganti," tuturnya.

Sebelum mendedikasikan dirinya menjadi petugas rukti jenazah covid, Rahma mengaku meminta izin kepada sang suami dan telah diizinkan.

Bukan tanpa alasan ia meminta izin. Sebab, risiko yang harus ditanggung cukup besar.

Selain kemungkinan terburuk terpapar, dirinya juga mengorbankan banyak waktu bersama keluarga, karena pulangnya bisa sampai pagi.

Selama menjadi petugas rukti Jenazah covid-19, Rahma mengaku banyak gejolak didalam dirinya.

Ada semacam beban berat. Sebab, memandikan jenazah covid dengan jenazah biasa sangat berbeda.

Memandikan jenazah biasa menggunakan air yang banyak.

Sementara, jenazah covid-19 tidak memungkinkan dilakukan hal itu.

Jenazah disucikan dengan cara tayamum.

Kemudian dikafani, dan jenazah harus dimasukkan ke dalam peti sebagai bagian dari protokol.

Rahma mengungkapkan, alasan kuat dirinya ikut menjadi petugas rukti jenazah covid karena ingin menyempurnakan kesucian jenazah sebelum ke ilahi.

Ia mengaku sebenarnya berat, mensucikan jenazah dengan tayamum. Namun itu yang terbaik.

Sebab, jika jenazah dimandikan maka airnya bisa kemana-mana, dan itu cukup berbahaya. Ia tidak mau mengambil risiko itu.

"Makanya sebelum memulai, saya biasanya minta maaf sama keluarga. Hanya ini yang bisa saya lakukan," ujar Rahma.

Ia mengaku hanya bertugas memandikan. Sedangkan untuk prosesi pemakaman, biasanya dibantu laki-laki, dari tim pemakaman Kalurahan maupun dari pihak keluarga.(rif)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved