Breaking News:

Feature

Kunci Kebangkitan Pariwisata DIY Ada Pada Protokol Kesehatan

Prokes ketat menjadi kunci agar pariwisata di DIY bisa bangkit lagi. Hal ini diungkapkan oleh Ketua BPPD DIY, GKR Bendara.

Penulis: Ardhike Indah | Editor: Agus Wahyu
TRIBUN JOGJA/Tangkapan Layar
BOB TALK - Bincang BOB Talk yang disiarkan YouTube Tribun Jogja Official, Rabu (7/7/2021). 

Protokol kesehatan (prokes) ketat menjadi kunci agar pariwisata di DIY bisa bangkit lagi. Hal ini diungkapkan oleh Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD) DIY, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara dalam seri ‘BOB Talk: Kondisi Kepariwisataan di Joglosemar serta Peran BOB dalam Mendukung Pemulihan’ yang disiarkan di YouTube Tribun Jogja Official, Rabu (7/7).

MENURUTNYA, dengan prokes super ketat, industri wisata di DIY bisa mulai merangkak naik akibat terhantam pandemi. Bagaimanapun, kesehatan menjadi nomor satu untuk masyarakat. “Sejak awal pandemi, sudah banyak yang menuding penularan corona itu datangnya dari wisata. Jadi, kami langsung terbangun dan berbenah, harus prokes. Taruhannya, kalau tidak prokes ya tidak dapat uang,” katanya.

Dijelaskannya, Dinas Pariwisata DIY dan Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY telah menggodok program koridor travel. Saat itu, percobaannya melibatkan kelompok kecil berjumlah 20 orang.

Travel koridor, kata GKR Bendara, menjamin siapa yang berwisata tidak tertular virus corona. “Tempat wisatanya prokes ketat. Kami sosialisasi juga untuk menyediakan wastafel yang kerannya tidak perlu diputar, tapi bisa ditekan pakai siku,” bebernya.

Dari situ, dia menyimpulkan bahwa industri pariwisata di DIY sebenarnya cukup siap untuk beroperasi kembali pascapandemi. “Kami sarankan juga wisatawan agar sering mencuci tangan karena hand sanitizer kan tidak ampuh membersihkan virus. Maka, sering-sering cuci tangan,” ungkapnya.

Pola perjalanan
Direktur Utama Badan Otorita Borobudur (BOB), Indah Juanita, menambahkan pihaknya telah membuat travel pattern atau pola-pola perjalanan, bersama dengan Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), dan Travel Agent dan Travel Operator (TATO).

“Jadi, travel pattern ini bisa jadi panduan untuk wisata tematik. Misalnya, ingin berwisata ke gua, maka daftarnya sudah ada nih. Kami tinggal mengedukasi pengamanan wisatawan, nanti akan dibekali dari guide andal,” terang Indah.

Pihaknya juga sudah bekerja sama dengan Badan SAR Nasional (Basarnas) untuk menentukan pengamanan di tempat wisata yang memiliki risiko tinggi. Persiapan lain yang dilakukan adalah memanfaatkan infrastruktur Yogyakarta International Airport (YIA) dan jalan tol. Menurut Indah, kapasitas dari dua infrastruktur itu cukup banyak mendatangkan wisatawan.

“Untuk YIA dan jalan tol, setidaknya bisa mendatangkan 20 juta orang masing-masing. Sebulan paling tidak ada empat juta orang, apabila tidak sedang pandemi. Maka, ini peluang bagi kami, apabila nanti pandemi sudah reda, ada kesempatan yang bisa diambil,” tukasnya. (ard/ord)

Selengkapnya baca Tribun Jogja edisi Kamis 8 Juli 2021 halaman 01.

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved