Berburu Rilisan Album Fisik yang Mulai Langka di Jogja Record Store Day

Terdapat beragam benda yang dijual dalam perhelatan ini. Seperti album dalam format cakram padat atau compact disk (CD), kaset, merchandise grup musik

Penulis: Yuwantoro Winduajie | Editor: Kurniatul Hidayah
TRIBUNJOGJA/ Yuwantoro Winduajie
Suasana perhelatan Jogja Record Store Club di Balakosa Coffee & Co, Minggu (13/6/2021) 

"Karena kita di Yogya ada komunitasnya jadi kita bikin acara yang sifatnya komunal seperti ini. Biasanya setiap bulan April, tapi karena kondisinya menyesuaikan kita menggelar di bulan  Juni," paparnya.

Didit yang juga memiliki toko bernama Rilisan Fisik ini mengungkapkan, peminat rilisan fisik belumlah punah meski platform streaming lagu terus bermunculan. Bahkan keberadaannya masih diburu sebagian orang.

Dia mencontohkan, di setiap penyelenggaraannya, JRSD tak pernah sepi pengunjung. 

Kegiatan ini pun telah digelar untuk ke delapan kalinya. Yakni sejak tahun 2013. Namun khusus tahun 2020 JRSD sempat ditiadakan karena pandemi Covid-19.

"Terus di luar acara pun masih ada yang mencari dan membeli," terangnya.

Tak hanya berjualan, komunitas JRSD mengundang sejumlah musisi untuk tampil. Panitia juga mengadakan talk show yang mengangkat tema permusikan. 

Salah seorang penggemar rilisan fisik, Heri Kurniawan mengaku telah mengoleksi cakram padat sejak tahun 2017. Saat ini dia telah memiliki belasan CD grup musik favoritnya.

"Saya ikut ngoleksi karena diracuni teman saya," ungkapnya.

Menurut Heri, aktivtias membeli rilisan fisik menjadi hal yang penting. Karena dapat menghidupkan ekosistem musik independen di Yogyakarta. 

Ini juga menjadi salah satu cara untuk memberikan apresiasi dan dukungan terhadap grup musik kesayangannya.  

Baca juga: BREAKING NEWS: 10 Guru di Salah Satu SMP di Wilayah Wates Kulon Progo Positif Covid-19

"Saya dulu tidak terlalu aware (sadar) dulu cuma ngopy dari website terus aku sadar ternyata album fisik sangat berarti bagi musisi independen. Ini wujud kontribusi pendengar kepada band favoritnya," terang Heri.

Dengan membeli rilisan fisik juga memberikan sebuah rasa kepuasan tersendiri terutama saat melihat layout artwork dalam sampul album. 

Sensasinya saat mendengarkan rilisan fisik pun dikatakan juga berbeda. Mulai dari membuka kemasan hingga memasukkan CD ke pemutar musik.

"Jadi apresiasi lah lagipula kan memang bagus-bagus. Dari kemasannya aku lihat bisa bersaing dengan musisi luar negeri baik lirik dan desain kemasannya. Dan harganya jauh lebih murah," tambah pria berusia 26 tahun ini. (tro)

Sumber: Tribun Jogja
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved