Breaking News:

Pendidikan

Epidemiolog UGM : Mobilitas dan Ketidakpatuhan Prokes Sebabkan Kasus COVID-19 Meningkat

Peningkatan lonjakan kasus positif covid-19 bisa disebabkan oleh kluster mudik kemarin dikarenakan mobilitas warga di saat lebaran meningkat.

Editor: Gaya Lufityanti
Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM - Kasus positif covid-19 dalam beberapa pekan terakhir mengalami lonjakan.

Bahkan di beberapa daerah meningkat hingga puluhan kali lipat.

Dua daerah yang menjadi sorotan pemerintah dan satgas COVID-19 pusat adalah Kabupaten Kudus dan Kabupaten Bangkalan, Madura.

Daerah yang lain juga mengalami mengalami peningkatan jumlah kasus meski tidak melonjak tajam namun pemerintah diminta tetap waspada dengan mempersiapkan ketersediaan kamar COVID-19 di setiap rumah sakit rujukan dan gedung-gedung yang menjadi lokasi isolasi mandiri.  

Epidemiolog UGM Dr Riris Andono atau akrab disapa dokter Doni menilai peningkatan lonjakan kasus positif covid-19 bisa disebabkan oleh kluster mudik kemarin dikarenakan mobilitas warga di saat lebaran meningkat.

Baca juga: Saran Epidemiolog UGM Tangani Lonjakan Covid-19 di Kudus dan Bangkalan: Tekan Laju Mobilitas Warga

“Dengan atau tanpa mudik, apabila mobilitas meningkat ketika sudah ada transmisi lokal, penularan juga akan meningkat,” ujarnya, Kamis (10/6/2021).

Seperti diketahui, peningkatan kasus di Kudus misalnya, ditengarai oleh Satgas COVID-19 berasal dari kluster ziarah makam yang menyebabkan naiknya kasus tersebut.

Sementara dari Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyebutkan justru kluster keluarga yang menjadi penyebab naiknya kasus COVID-19 di Kudus. 

Menurut Doni, untuk mengetahui penyebab naiknya kasus di Kudus harus ada data secara riil soal seberapa besar kunjungan ke makam, lali seberapa jauh kedisiplinan masyarakat dan faktor lainnya.

“Kalau tidak ada data riil ya tidak bisa ditarik kesimpulan yang mana secara pasti. Yang bisa diberikan adalah penjelasan kemungkinan. Baik mobilitas, maupun kepatuhan pada protokol atau keduanya berkontribusi pada peningkatan kasus,” paparnya.

Baca juga: Daftar Zona Merah Covid-19 di Indonesia, Jawa Tengah Ada Dua, Kudus dan Tegal

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa untuk membedakan kemungkinan-kemungkinan tersebut juga tidak terlalu relevan sebab strategi pengendalian penularan itu memerlukan kombinasi antara melakukan restriksi dan meningkatkan kepatuhan masyarakat pada protokol kesehatan.

“Saya tidak bisa membuat kesimpulan yang pasti. Tetapi yang terlihat di masyarakat adalah banyak ketidakpercayaan terhadap adanya COVID-19. Ini bisa disebabkan karena ketidaktahuan mereka tentang COVID-19, disinformasi terkait COVID-19, maupun mungkin juga kejenuhan terhadap situasi yang tidak menentu secara berkepanjangan,” jelasnya.

Menurut Doni, satu di antara upaya pemerintah dan satgas COVID-19 untuk saat ini adalah menekan laju mobilitas warga.

Sebab apabila transmisi di komunitas meningkat tinggi, maka risiko penularan juga akan meningkat. ( Tribunjogja.com )

Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved