Deretan Mitos Seputar Jaringan 5G

Berbagai mitos menyertai kehadiran jaringan 5G sejak awal kemunculannya. Beberapa di antaranya terbilang tak masuk akal.

Editor: Singgih Wahyu N
freepik
Telepon seluler dengan logo 5g di layar. 

3. Belum dibutuhkan

Mitos yang satu ini sangat bertolak belakang dengan fakta kehadiran 5G. Jaringan generasi kelima ini muncul sebagai solusi atas tingginya konsumsi data seluler saat ini.

Setiap tahunnya, dilaporkan konsumsi data seluler mengalami peningkatan sebanyak 40 persen. Oleh sebab itu, 5G hadir untuk memberikan layanan jaringan yang lebih baik.

5G bahkan digadang-gadang mampu menyediakan kecepatan data hingga 20 kali lebih cepat dibanding 4G. Hal ini tentu berperan besar terhadap proses perkembangan industri bisnis di berbagai sektor, mulai dari manufaktur dan pemantauan jarak jauh, kontrol lalu lintas secara real-time, serta masih banyak lagi.

4. Menggantikan 4G

Meski mengalami sejumlah peningkatan yang jauh lebih baik dibanding 4G, kehadiran 5G tidak serta-merta menggeser posisi 4G. Hal ini disebabkan 5G dibangun di atas jaringan 4G itu sendiri, dengan menggunakan radio dan perangkat lunak yang telah diperbarui.

"Bagi berbagai operator di setiap negara, LTE adalah dan akan terus menjadi fondasi (jaringan seluler) setidaknya untuk 10 tahun mendatang," ujar laporan GSMA.

Selain itu, penggunaan 4G masih akan banyak digunakan khususnya di wilayah pedesaan. Hal ini sangat mungkin, mengingat infrastruktur 5G masih berfokus pada wilayah perkotaan.

5. Membunuh burung

Sebuah unggahan yang dibagikan di media sosial pada 2020 mengeklaim bahwa 5G merupakan penyebab dari kasus kematian yang menimpa ratusan burung di Belanda. Pengguna Facebook bernama Tim Emslie yang menyatakan hal tersebut juga mengunggah foto ratusan burung mati di sebuah jalan raya.

Halaman
123
Sumber: Kompas.com
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved